“WINDA MENJALANI KEHIDUPAN INI SECARA ALAMIAH SAJA”
![]() |
CANDI CETO |
“Ini merupakan episode terakhir cerita Winda yang telah mapan menjalanu kehidupan, dan memilih pengabdiannya pelalui kependetaan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Kepada Umat yang telah memilihnya untuk itu”.
“Semakin jauh aku melangkah,
semakin jauh rasanya yujuan yang aku cari. Semakin kuat aku melangkahkan
kakiku, terasa semakin berat kakiku untuk melangkah”. Inikah namanya karma masa
lalu yang mengikat kehidupanku masa kini. Aku ingin mengatakannya ke suamiki
Mas Lomo tetapi aku tidak kuat untuk mengatakannya, aku takut melukai hatinya
yang trlah dengan tulus mencintaiku, dia telah memberikanku tiga orang anak
yang sudah mulai besar.
Hapir lima tahun aku telah
menjalani kehidupan spiritual, mengabdi kepada leluhur dan kapada Yang Maha
Agung, menjalani kependetaanku. Melayani umatlu dengan keikhlasan dan
ketulusanku. Aku ingin menutup kenangan masa laluku dengan menyibukkan diriku
dengan pengabdian ini. Anak-anakku merupakan hiduran laiku, aku masih sering
tidur, mandi, berenang bersama dengan mereka. Terasa kebahagianku semakin
sempurna rasanya.
Hari ini sudah sekitar pukul
sepuluhan, kudengar alunan lagu Darwawi Purba mengalun lembut. “Dapatkah aku
gantikan oh sayang…… setulus hatiku semurni cintaku kuingin mengantikan dia
yang kau sayang ….. Ooooooooo mimpi…. Hanyalah kau kau sayang Hemmmmmmmmmmm”
Aku peluk suamiku yang sedang memperhatikan patung yang sedang dia selesaikan.
Diapun segera memelukku, mengangkatku ke ruang studio sebelah tempatnya
merenung tadi.
Pagi itu aku lewatkan dengan
sangat indah berdua, walau lebih dari sepuluh tahun pernikahanku. Aku merasa
bara dilibidoku semakin membara. Mungkin karena sudah tidak beban memikirkan
akan hamil lagi. Karena memang semenjak aku menjalani kependetaanku, takdir
sudah menyebabkan aku tidak mendapatkan anak lagi. Seperti pendahulu pendahulu
kami. Itu sudah dari sananya tidak dapat dijelaskan dengan ilmiah atau akal
sehat.
Mas Lomo tetap seperti mesin
disel, semakin lama semakin kuat tarikannya. Aku sangat menikmatinya dan aku
sangat bahagia, dibelai Mas Lomi dan semilir angina studio yang masu kamarku
lewat celah jendela pagi itu. Studio itu sangat pribadi tidak mungkin ada orang
masuk. Pagi itu membawa pikiranku ke beberapa tahun silam saat aku masih
menjadi petualang cinta. Ya Tuhan maafkanlah hambamu ini. Terimakasih Tuhan
kami telah kau berikan suami yang penuh pengertian, yang menjadi terminal
terakhir cintaku.
Setelah menyelesaikan sesi akhir
bercinta, kami bersama berendam di kolam ranang pribadi sambil menyampaikan
gejolak hatiku kepada Mas Lomo. Kuceritakan bahwa aku sangat menikmati
masa-masa spiritual ini. Tapi aku sampaikan juga bahwa ada rasa yang semakin
terikat dengan masa lalu, yang mengikat kaki ini untuk berjalan labih cepat
lagi.
Mas Lomo hanya menjawab, bahwa
itu soal biasa, Itu sama dengan deburan ombak dilaut, semakin cepat menjalarnya
maka dia akan semakin besar gelombangnya. Biarkanlah dia akan reda dan luluh
bersama angina kalau sudah sampai disebuah panyai yang indah. Hidup masa kini
memang tidak bisa dipisahkan dengan hidup masa lalu. Kata Gde Prama, nahwa masa
lalu itu adalah ibunya masa kini, sehingga kita tidak boleh melupakan jasa
seorangibu, walau ibu kita tidak pernah memintanya.
Aku jadi mengerti mengapa Mas
Lomo sangat menyayamhi Ibunya dan Ibuku. Dia tidak membedakan antara ibu
kandung dan ibu mertuanya. Seakan inuku adalah ibu kandungnya. Terus terang
kukatakan aku belum bisa seperti Mas Lomo, memperlakukan inu mertuaku sesayang
itu. Masih ada kejanggalan yang kurasakan.
Aku berusaha tetap melakukan
pengabdian semaksimal mungkin untuk keluaragaku, untuk ayah ibuku, maupun ibu
mertualu (bapak mertua sudah tidak ada), demikian juga untuk umat kami di
Margoyoso Kemuning. Aku persembahkan hidupku untuk mereka. Itu sebagai rasya
syukur dan pengabdianku atas nikmat yang kuterima dari Nya selama ini. Aku
punya Perusahaan yang mapan yang menambah pundi-pundiku setiap saat, mempunyai
suami yang sangat pengertian dan menyayangiku. Rasanya selama menikanh aku
belum pernah dimarahi Mas Lomo. Malah aku sering memarahinya. Demikian juga
dengan bengkel seninya Mas Lomo, maju dengan pesat sangat banyak customer yang
datang kembali membawa cuctomer baru untuk dibuatkan patung diri.
Anak-anakku juga demikian dapat
tumbuh dengan nyaman dan baik, walau terpencar tiga, seoramg bersama neneknya
yang kelihatan sangat tertarik dengan masalah kesehatan dan rajin memupuk
kerohaniannya, sejalan dengan kegiatan mama. Anakku yang ikut sama kakak ku
mereka tidak mau pisah lagi aku biarkan saja, Karen tantenya menyayanginya
seperti bahkan melebihi sayang dari anak sendiri. Dia kelihatannya tertarik
masalah psikologi sejalan dengan bidang tantenya yang menjadi konsultan
psikologi. Dan si laku kecil gondrongku, terlihat berbakat seperti mama dan
ayahnya. Dia tertarik seni seperti papanya, juga punya insting bisnis yang kuat
seperti mamanya.
Aku biarkan saja mereka hidup
berkembang sesuai dengan habitat dan kemauan mereka. Nantinya mereka menjadi
apa biarkan sang waktu yang akan menjawabnya. Aku mau menikmati hidup ini,
menikmati nikmat cinta bersama suamiku, serta menikmati nikmat pengabdianku
untuk umat yang telah meilih Mas Lomo tentunya aku juga sebagai Pendetanya.
Beberapa guru, pendeta yang sudah
sangat mapan dan masyur pernah kuajak diskusi dan kutanya. Apakah setelah
menjadi pendeta aku harus menghentikan kegiatan seksualku, dan membendung
libidoku yang memang membara sejak aku ramaja?.
Hampir semuanya mengatakan
nikmati saja, asal bisa mengatur waktu untuk pengabdian memimpin umay. Nikmati
saja karena itu merupakan karunia dari Sang Maha Pencipta, karena tidak semua
orang beruntung memperoleh libido yang demikian. Tetapi dengan berjalannya
waktu, berjalannya pengabdian libido itupun akan semakin mereda, sama seperti
kalau sudah kehendak Sang Maha Pancipta, akan mereda seperti kalian tidak dapat
hamil lagi seperti sejak kau menjalani kependetaan ini. Astungkara.
Pendapat para pendeta itu, sama
dengan apa yang diucapkan Mas Lomo. Yang mengibaratkan libido iu seperti
gejolak gelombang samudera yang akan reda pada sebuah pantai tertentu. Dia akan
tenang dan reda bila sudah sampai saat tertentu. Waltu itu tak bisa diminta
ataukah ditolak. Kita nikmati saja… begitu Mas Lomo mengatakannya. Semuanya itu
semakin meringankan langkahku untuk melangkah mantap pada pilihan hidupku
menjalani kependetaan ini, mengabdi kepada Sang Maha Esa dan Kepada Umat yang
telah meminta Mas Lomo dan Aku untuk memangkunya. Semuanya kujalani secara
alami ini sebagai ungkapan terimakasihku kepada Tuhan Yang Maka Kuasa yang
telah memberikan kami sangat banyak kebahagian, kenikmatan hidup, dan kehidupan
yang mapan terutama kesehatan selama ini.
On avighnamastu namosidham. Om
Sodhirastu tatastu swaha. Om Santi Santi Santi Om.
Puri Gading : Awal April 2017