“WINDA TELAH MEMBUAT KEPUTUSAN BERAT”
Keputusan Winda Tegas Selurus Jalan (www.google.com)
Keputusan Winda Tegas Selurus Jalan (www.google.com)
Windi ku lihat sangat anggun pagi
ini, dia memakai kemben kuning berkebaya putih, selembar selendang melingkar
dipinggangnya berwarna kuning tua. Dia langsung berjalan sendiri ke tempat
sembahyang walau hari masih pagi. Sebagai orang tuanya kami tentu sangat
bahagia melihatnya. Putriku yang tidak sempat kudidik masalah adat dan agama,
telah tumbuh dalam kedewasaan, dia telah menemukan jatidirinya. Inikah pertanda
dia telah siap menerima lamaran Salomo, yang telah berjanji besok akan datang
dengan keluarga besarnya untuk membicarakan hari bahagia itu.
“Ma… apakah kau lihat pada
perubahan anak kita?” tanyaku kepada istri. Dia tidak menjawab apapun, hanya
kulihat dia terdiam dan dua bulir air menetes dari matanya yang sangat ku
kagumi sejak muda. Mata itu yang membuat hati kami terpikat. Dan seluruh
miliknya sampai saat ini menjadi milik dan kekagumanku. Ia mengangguk sambil
meneruskan tangisnya. Ku peluk dia ku ajak berdiri ikut dengan putriku
sembahyang. Kami duduk disebelah kiri Winda, dengan masing masing menghadapi
sebuah bokor kecil berisikan kembang kamboja dan kenanga.
Sekitar lima belas menitan kami
sembahyang bersama, tampa kata sepatahpun. Karena sembahyang pagi itu merupakan
sembahyang sunyi kami. Ada keyakinan sembahyang dengan doa dalam hati akan
mendapatkan pahala pangkat tiga kebanding sembahyang dengan memanjatkan doa
yang kedengaran suara.
Dari tempat sembahyang yang tidak
begitu jauh dengan kamar winda kudengar lagu sedih The Mercy’s, Pergi Tanpa
Berita.
………..
Sebagitu ombak berderai/ diujung tepian pantai/ Sebegitu pula cintaku/
kau anggap angina nan lalu……
Pergi tanpa berita/ ditinggal sedih dan duka…..
……..
Lamat-lamat masih kudengat. Ku
tatap wajah anakku. Pagi ini kulihta sangat jelas wajahnya merupakan perpaduan
wajah manis Bu Lik ku dan wajah ayu istriku. Dia mendekatiku dan memelukku
dengan sesenggukan, air mataku ku tahan jangan sampai ikut jatuh karena ku tak
tahu Apakah Winda bersedih atau bahagia pagi ini. Yang jelas kulihat dia sangat
anggun. Dia mengenakan pakaian persis gaya Bu Lik kami yang tinggal tidak
serumah, karena beliau lebih banyak tinggal di rumah di Bukit, untuk melayani
umat yang memerlukannya.
Dia mengabdikan dirinya lebih
banyak untuk umat dan masalah social, sehingga dia tidak menikah spanjang
hidupnya. Mudah-mudahan saja Winda sembahyang pagi ini memohon petunjuk Tuhan
Yang Maha Esa menjelang rembugan dengan Keluarga Besar Solomo. Isrtriku Dara,
hanya melongo melihat perubahan yang lebih religius, spiritual pada Winda putri
kami.
Kugandeng anakku Winda keluar
dari tempat sembahyang, kuhantar sampai Bale Bengong, dimana sarapan pagi
berupa jajanan pasar telah disiapkan bersama kopi dan the sebagai sarapan pagi
itu. Lagu the mercy’s pun masih kudengar telah berganti dengan Lagu Cinta
Abadinya. Aku tak mengerti kenapa Winda sangat senang dengan lagu itu. Padahal
lagu itu popular saat mamanya masih di asrama. Aku kenal benar lagu itu. Lagu
itu sering ku dengar saat mengunjungi Dara ke asramanya.
Hari bernjak siang. Anak
Lelakiku, abangnya Winda telah kembali dari tempat prakteknya, ikut bergabung
dengan kami di Bale Bengong. Dia mengambil beberapa potong kue lapis dan godoh
kesukaannya. Diapun menyuapi Winda seperti kebiasaannya selama ini kalau
bertemu. Ayo dik… buka mulutnya Hemmmmm, merekapun tertawa berderai. Dan Winda
pun mengejar sang abang yang lari menjauhkan kue lapis itu sebelum suapan yang
kedua terjadi. Aku sangat bahagia melihat mereka, walau lama hidup saling
berjauhan namun hubungan abang-adik sangat akrab.
“Bang gendong Winda dong” pinta Winda ke abangnya. “Boleh, tapi kamu
juga harus mengendong abang ya”. “Oke siapa takut” Jawab Winda. Huffff Hahaha
Winda sudah ada digendongan abangnya. Widan dibawa berkeliling halaman oleh
sang Abang. Tepat dihadapan kami Winda diturunkan. Ayo giliran abang Win
menggendong Abanag. Huff Abang telah ada digendongan Winda. Memang Winda
kelihatannya samgat enteng menggendong abangnya. Iapun membawa berkeliling
abangnya, dengan pakaian kemben dan kebaya sembahyangnya.
Mereka sangat akrab, sambil
digendongan Winda, abang bisikkan kata, ayo Wind kamu mau kawinnya. Jangan lupaian
abang ya. Winda rupanya kurang berkenan dengan bisikan abangnya, dan
menurunkannya didepan orang tua mereka dengan kesal. Winda kembali terdiam,
langsung memeluk Ayah. Kenapa dik…. Kenaa dik, maafin abang ya.
Mereka kembali duduk di Bale
Bengong berempat, Semuanya menghadap ke sarapan yang disiapkan si embok, kue
lapis dan godoh ha,pir habis semuanya. Memang mbok membelinya subuh di warung
langganan. Membelinya harus pagi, kesiangan dikit pasti akan kehabisan.
Ayah, Mama dan Abangku yang
cakep, Winda mohon dengarkan Winda sebentar. Winda ingin menyampaikan sesuatu
kepada kalian semua, tentang keputusan yang telah Winda ambil dalam babakan
penting kehidupan ini. “Ayo Winda, mama sangat ikhlas apapun yang engkau
putuskan, kami telah siap untuk melepaskanmu untuk dipersunting calon suamimu”.
Karena itu memang merupakan tahapan hidup yang harus kau lalui.
Ayahpun menceritakan tahapan
dalam hidup yang harus dilalui dengan bahasanya sendiri. Kau akan menapaki
tahapan Grhaasta, setelah kamu melewati tahapan Brahmacharia, tahapan kamu
menuntut ilmu kehidupan, ilmu agama sebagai dasar dan pedoman kalian menapaki
hidup selanjutnya pada tahapan yang lain. Demikian pula kamu kapan bang, Tanya ayah
kepada Abangku. Semua Cuma manggut manggut saja mendengarkan ceramah ayah.
Kami telah siap melepaskan kamu
Winda, walau bagaimana ayah-ibu harus mengikhlaskannya. Demikianpula harus mau
menerima siapaun yang akan menjadi jodoh abangmu. Kami harus dan akan
menerimanya seperti anak kami sendiri, yang akan tetap kami didik dan tuntun
dalam tahapan hidup selanjutnya. Astungkara.
Mama dan kedua anaknya, tak sadar
berkaca kaca bahkan Winda sampai meneteskan airmata mengikuti wejangan ayahnya.
Kau Winda dank kau juga lirik ayah kea bang,sampai kapanpun akan tetap menjadi
anak ayah dan ibu. Apakah kau sudah berkeluarga ataupun belum. Semoga kasih
sayang kami tidak berubah.
Kami guru rupaka, ayah ibu kalian
akan lebih banyak menyerahkan kalian untuk belajar dengan Guru Wisesa dan Guru
Swadiaya, kepada masyarakat, kepada pemerintah dan kepada Tuhan Yang Maha
Esalah kalian akan lebih banyak berguru. Kepada kami orang tua, dan kepada guru
Pengajian di sekolah, ayah rasa itu sangat cukup kalian dapat. Kami ikhlas akan
menghantarkan kalian ke gerbang keluarga baru kalian.
“Mohon maaf ayah, Winda menyela
wejangan ayahnya”. Kenapa Winda, silahkan berbicaralah apa yang ingin kamu
sampaikan ke kami.
Abang, mama dan Ayah yang sangat
Winda sayangi. Winda telah mengambil keputusan yang sangat berat, yang
sebenarnya Windapun takut menyampaikannya. Winda khawatir ayah dan mama akan
marah mendengarkannya. “Tidak Winda, seperti Ayah katakana tadi, apapun
keputusan yang kalian ambil, kalian tetap anak kami, kami tak akan berubah
karena kalian akan menjalani tahapan hidup kalian berikutnya”.
“Iya Winda, mamapun akan
mendukung apapun keputusan kamu. Mama tidak mau apa yang mama alami dalam
perkawinan mama, berulang pada kamu, mama akan menrima apapun keputusan kamu,
bahkan mungkin untuk menikah dengan orang lain selain Solomo”.
“Tidak ma, Mas Solomo orang yang
sangat baik, dia mencintai Winda dengan sangat tulus. Mama dan Ayahpun mungkin
mengetahuinya itu”. Maafkan abang, aku telah memutuskan dan menyampaikannya
kalau abang sudah memutuskan minimal telah memberikan ancer-ancer waktu akan
menikah. “Ayo bang, sampaikan kapan abang berencana menikah?”.
Hahahaha, jadi kuncinya aku ya,
teriak sang abang. Yah Ayah, mama dan adikku yang manis, kalian jangan
menertawakan keputusan dan pilihanku. “Tidak, apapun pilihan Abang, kami akan
mendukung” serentak mereka bertiga menyampaikannya. Begini, calonku baru akan
Wisuda Sarjananya sabtu ini, setelah itu Ayah dan keluarga sudah boleh meminang
dan menikahkan kamu. Karena hanya itu persyaratan orang tuanya. Dia harus sudah
Sarjana. Winda langsung memeluk abangnya dengan berkali kali mencium abangnya.
Selamat Bang. Oke kita akan nikahkan bersama saja dua sejoli kata mama. Winda
menimpali ‘Tidak bisa ma, dalam tradisi kita tidak boleh ada jual beli”. Dan
itupun tak akan terjadi kata Winda. Karena aku telah memutuskan setelah abang
ada kepastian menikah.
Kepastian itu telah kita
dengarkan bersama, biarlah aku menyampaikan keputusanku. Semua terdiam
memperhatikan Winda semua. “Ayah, Ibu dan Abangku sayang, aku telah mengambil
keputusan. Keputusan yang sangat berat, mungkin ayah, ibu dan abang akan
memarahi Winda”.
“ayo Winda sampaikan apa
keputusan kamu, bukankah besok keluarga besar Solomo akan datang membicarakan
acara pernikahan kamu?”. Iya kusampaikan, Abang, terima kasih abang telah memastiakan
untuk segera menikah dengan pilihan abang Aryati, anak juragan beras dari
Kampung Soka, Ayah, mama maafkanlah Winda, akan kusampaikan keputusan itu.
yaitu: Winda telah memutuskan untuk tetap sendiri, dan tidak akan menikah dalam
sisa hidup Winda ini, Biarkanlah Winda tetap menjalani hidup seperti saat ini,
dan akan mencoba berbagi dan mengabdi seperti yang dilakukan Nek Lik di Bukit.
Maafkanlah Winda.
Mereka
bertiga tertunduk, entah apa yang dipikirkannya, padahal besok keluarga Solomo
akan datang untuk merundingkan persiapan pernikanan Winda-Solomo. Keputusan
sudah diambil, tinggal strategi pertemuan harus diatur. Itulah tugas ayah
selanjutnya. Kalau ayah tidak bisa menyampaikannya bisarkanlah besok Winda akan
menyampaikan karena Mas Solomo, Winda yakin akan memahami keputusan Winda untuk
tidak menikah.
Puri Gading Bukit Jimbaran, 1
Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar