Social Icons

Selamat Datang di Blog Itik-Bali

Selamat Jumpa Pembaca yang budiman, selamat datang di blog ini. Blog ini dibuat hanya untuk proses pencurahan hati dan ingin menghibur pembaca sekalian.

Dengan bahasa ringan sehari-hari, saya ingin berbagi cerita pendek yang mudah-mudahan bersambung, sehingga pembaca sekalian diundang untuk melepas lelah dan penat di blog ini.

Semoga pembaca sekalian menikmati dan terhibur setelah membaca. Tentu komentar dan saran anda sangat kami nantikan.

Salam

Sabtu, 20 Februari 2016

Dosen Jaim

Pak Guruku Jaim Sekali



“OBROLAN GURUKU MENJELANG UJIAN PAS HARI ULANG TAHUNNYA”
Honai Rumah Asli Papua (google.com)
Pak Guru ku ini dikenal orangnya sangat serius, jarang ketawa, apalagi tersenyum. Salahpun jarang minta maaf paling-paling nyengir. Jaim sekali dia, maklum saja dia Guru Fisika, tamatan Universitas Ternama, kepalang basah jadi Guru, karena keasyikang di Bimbingan Belajar saat menjadi Mahasisea, sehingga oleh seorang Kepala Sekolah kala itu ditawari menjadi guru tetao, jadi PNS di sekolahnya.
Saat itu memang guru Ilmu Pasti – Matematika, Fisika, Kimia, Biologi- memang susah pada saat itu. Singkat certia tawaran diteimanya. Sehingga bagai Umar Bakri dia tetap menjadi guru pada usia paruh bayanya. Dan istrinya yang cantikpun konon bekas anak didiknya, yang kasihan melihat Pak Guru menjadi Bujangan Lapok.

Kamis, 11 Februari 2016

Winda-4 : Selera Mama Selera Winda



“SELERA MAMASELERA WINDA”


Bangun tidur pagi itu, mentari telah menjilat kamarku lewat jendela. Gemuruh Kereta Api telah beberapa kali ku dengar, menjemput dan mengantar pawa ‘worker’ dari pemukimannya, menuju tempat ketja. Tapi mata ini masih bisa diajak kompromi, walau lewat tengah malam kami masih berbincang dengan mama. Suasana demikian sudah lama aku tak alami, tidur seranjang dengan mamaku curhat apa saja, seakan mama adalah teman sebayaku, dan mama bisa saja mengimbangi ceritaku. Seakan dia masih seumuranku, termasuk bahasa gaul anak muda saat ini, beliau tahu. Memang mamaku gaul, walau serius dalam kerjanya, beliau masih bisa berkelakar, bercanda maupun nge mop seperti layaknya masyarakat Papua, dimana aku pernah tinggal untuk beberapa lama, karena tugas mama.
Rupanya mama sudah bangun duluan, karena aku terbangun beliau sudah sempat menyetel Home Teater. Aku sangat ingat dan tahu lagu yang beliau stel saat itu, penggalan syairnya yang masih kuingat:
Pertama kali bertemu/kulangsung jatuh cinta/walau kutahu kau sdah ada pemiliknya/ku tak mampu menahan gejolak cinta ini……….Maka ijinkanlah aku mencintaimu/atau hanya sekedar aku sayang padamu.. Itu lagunya Chrisye yang ada into lagu jawanya. 
Sambil menikmati alunan lagu-lagu Chrisye aku masuk ke kamar mandi mama. Memang dua hari ini aku nginep di rumah mama, karena aku memang ingin sama-sama curhat. Biasa curhatnya perempuan. Aku sering berdebat seru dengan mama, ketika aku membandingkan kecantikanku dengan mama. AKu bilang kok postur tubuhku beda dengan mama, aku lebih seksi, lebih jenjang karena pinggangku panjang, demikian juga leherku lebih kokoh dan panjang, demikian juha aku lebih tinggi sekitar 15 cm dibandingkan mama.
Parasku memang mirip mama. Kalau soal postur mama selalu bilang itu postur dari postur ayah, yang sampai saat ini aku belum tahu secara pasti. Aku tak mau mendesak mama untuk menceritakannya. Beliau berjanji akan menceriterakan ke kami hal yang sebenarnya. Hanya saja mamaku selalu bilang bahwa beliau tidak pernah bercerai dengan papaku.
Mama bilang dirinya sangat egois, meninggalkan papaku sekitar 22 tahun yang lalu, saat aku berumur tiga tahunan. Beliau tak tahu kenapa emosinya saat itu begitu liar mengajaknya pergi dari kediaman ayahku di Pulau Dewata. Yang ku tahu mama bilang papa ku seorang Arsitek, yang juga menekuni seni lukis sejak beliau masih sekolah menangah dulu di kotanya. Itu karena sekolah beliau memang sekolah SMA terkenal di Bali, dengan ciri khasnya selalu melahirkan pelukis, seperti Nyoam Nuarta, itu lho perupa yang sangat terkenal yang membangun ratusan patung di Indonesia, dari Arjuna Wijaya di dekat Air Mancur Jakarta, patung Garuda Wisnu Kencana dan ratusan lainnya yang menghiasi perkotaan dan pemukiman di Nusantara. Aku dengar juga tamatan sekolah itu. Pada periode 1970 an sekolah itu dipimpin oleh seorang seniman.
Kata mama beliau masih berhubungan baik, saling menafkahi walau saling berpisah tempat tinggal. Demikian juga aku dan kakakku, dua-duanya tidak hidup dengan orang tua yang lengkap. Kakakku yang hanya ku kenal lewat fotonya, bersama papa. Kata mama dia menjadi seorang  dokter spesialis kandungan, yang sangat banyak pasiennya. Maklum dia dokter masih muda usia dan tampan lagi. Kata mamaku, pantes saja para ibu-ibu pingin diperikasa olehnya. Namun kudengar karena kakakku bertangan dingin, lebih banyak pasien merasa nyaman dan aman ditangani beliau.
Aku sangat merindukan untuk berbincang dengannya. Kata mama dia berpostur mirip dengan aku. Jadi dekat dengan postur papa, tinggi, kekar tapi dia agak sering tak tahan dengan stress pekerjaan. Sifatnya lebih banyak mengambil sifat mamaku.
Kakakku sudah hampir menjelang kepala tiga belum juga menikah. Kakak menurut mama sangat pendiam dan cenderung pasif dengan wanita, walau selalu ada pacarya. Dia tipe pria setia. Tidak seperti aku. Aku sudah beberapa kami punya pacar, walau berlangung cukup lama dengan pacar-pacarku tapi lebih banyak putus, itu mungkin karena emosiku yang tidak stabil, yang sering merajok untuk segera diputus kalau ada masalah. Pria mana yang tahan kalau selalu ditekan untuk memutuskan cinta, apalagi kalau terus ditekan saat dia lagi ada masalah juga.
Demikian juga mama, aku yakin banyak pria yang mendekatinya kalau tidak tahu bila mama dengan papa masih belum berpisah resmi, hanya berpisah rumah saja. Mama sangat bertanggung jawab dengan putra putri beliau, apalagi papa. Beliau kata mama tipikal pria yang sangat romantic, setia dan pekerja keras serta tanggung jawab ke keluarga sangat besar.
Beberapa kali mama di jemput untuk di ajak pulang kumpul kembali untuk keluarga, mama masih belum menerimanya, karena egois dan rasa malunya kepada keluarga besar papa. Terhadap keluarga besar mama di Karanganyar, Solo. Kelihatan mama masih gencatan senjata. Seakan mama di buang dari keluarga, karena mama menolak dijodohkan Eyang dengan seorang pamong praja yang masih kerabat.
Mama baru berani pulang kampong saat dijemput Pak Lik disaat Eyang kakung kritis, sebelum mangkatnya. Beliau telah merestui pernikahan mama dengan papa. Kudengat papa dan kakakku pun hadir saat pemakaman Eyang di Solo. Aku tak sempat memperhatikannnya karena mama sangat memprotek agar aku tidak mengetahui papa dan kakakku sebelum saatnya beliau memberitahu.
Mama dalam kesendiriannya, menurut cerita beliau semalam sangat sering ditaksir sesame rekan seprofesinya baik sesame dosen, sesame dokter maupun oleh mahasiswanya. Memang aku dengan mama kalau pergi bareng sering disangka orang kakak adik. Sungguh senang punya mama awet muda.
Nah kembali ke lagu tadi jangan-jangan mama pernah jatuh cinta atau ditaksir oleh orang yang sama sama sudah punya keluarga, akh aku tak peduli. Mama juga tidak pernah mau tahu hubunganku dengan siapa saja. Dengan pacarku yang sebaya, dengan pacarku yang beda status, dengan pacarku yang beda keyakinan sampai dengan pacarku yang beda usia denganku. Beliau sebagai pengamat dan wasit yang baik, selalu mengingatkan menjaga nama keluarga. Menjaga kesetiaan kepada pasangan.
Nah itu yang banyak kupelajari dari mama, sehingga aku seperti murid yang mengidolakan dosennya, bila mama dosenku. Sangat sering aku meniru mama, baik dalam dandanan, model rambut, warna lipstick, warna bedak  sampai pada mode pakaian. Padahal kami tidak pernah bersama saat membelinya. Mungkin ada gen yang sama terkait dengan selera mode tersebut.
Mamaku memang egois, kalau aku masih lebih toleran dan bisa demokratis dalam hubungan. Aku sangat menghormati pasanganku, demikian juga aku mau dihormati oleh mereka. Aku senang di manja, dan disanjung. Kalau mama sangat pede dengan kecantikannya. Memang putri Solo sangat percaya diri, kata beliau.
Tak terasa aku sudah hampir sejan di kamar mandi mama, kuperhatikan semua perlengkapan kamar mandi mama kok sama ya dengan aku, aku mau protes mama yang mengikuti seleraku. Sabun body shop jenis dan parfum pilihan mama sama persis denganku, sabun, maupun warna dan motif kamar mandinya kok sama ya. Cuman kamar mandi mama lebih terasa kurang pribadi kebanding kamar mandiku.
Yayaya, memang karena mama belum pernah bercerai dengan papa. Meraka berdua katanya masih tetap saling menafkahi, berarti papa mungkin sering nginap disini, sehingga mama selalu menjaga privasinya. Demikian juga aku sejak berkiprah di ibukota kembali, aku mohon diijinkan mama untuk tinggal di rumah lain sendiri. Beliau tidak berkeratan asal beliau punya akses untuk mengawasiku. Lupa aku mama masih tetap menagwasiku, sehingga selera tetap terjaga kesamaannya.
Winda, winda….. apa kamu tidur di kamar mandi Win?. Panggilan mama kepada ku dengan lembut di depan pintu kamar mandi, sebentar ma, aku lagi beresin ini pakaian bekas. Ku masukkan kekeranjang pakaian bekas, aku perhatikan kok sudah ada pakaianku padahal aku belum memasukkannya kekeranjang.  Ternyata seleraku sama dalam pilihan merk dan warna pakaian dalam. Mama memang mengajariku untuk memilih pakaian dalam yang baik, walau lebih mahal akan tetapi enak dipakai dan tidak kelihatan kusut, apa lagi kalau ngecap keluar. Beliau punya selera yang tinggi. Bayangkan sejak SMA aku sudah bisasa beliau belikan merk yang terkenal yang kupakai sampai saat ini.
Aku sudah rapi, menghampiri mama. Mama bercerita habis jalan-jalan mengeliling komplek. Mama bertemu kawan lamanya saat di daerah Ibu Ongko, itu istrinya Dokter Yahya, sama sama pernah dinas di Papua. Sambil bernostalgia keduanya bercengkerema di taman, yang masih dihiasi oleh kembang-kembang yang hanya mekar di bulan Desember. Menyaksikan tukang sapu menyapunya, membangkitkan kenangan lama, sata keduanya duduk bersama di halaman komplek rumah sakit Dok II, di taburi rontoknya kembang Desember, sambil memandang lautan Pasifik di bawah komplek, serta di sinari mentari pagi, sebelum menjumpai pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan yang terkadang sangat banyak jumlahnya.
“Bu Ongko, memuji kecantikan mama yang masih tetap seperti saat muda”. Memangnya mama sudah tua gumannya, kan anaknya baru dua. Hehehe mama jangan ngelantur ma, eling ma. Mama sudah punya anak yang cukup dewasa, dan sudah waktunya punya cucu ma. Mama harus segera berkumpul dengan papa, kita bangun keluarga baru dengan semangat baru, semangat rekonsiliasi. “Apanya rekonsiliasi Winda, mama tak pernah meninggalkan papamu, kakakmu. Hanya karena keegoisan mama yang saat ini sudah mulai tergerus, ada restu Eyang kalian, mama mau tata kembali.
Mama tidak pernah menyia nyiakan kalian, papamu, keluarga mama maupun keluarga papa. Papa mu adalah cinta sejati mama, demikian juga mama cinta sejatinya papa kamu. Sebentar lagi akan mama ajak kamu, kakak dan papa bertemu untuk merencanakan masa depan kita. Mama sudah menyiapkan itu semuanya, demikian pula kelihatannya papa. Dasar mama ku orang sangat egois.
Puri Gading, Wagen Galungan Pebruari 2016

Senin, 25 Januari 2016

Winda 3 :Pa, Apakah hati ini bisa diajak berdamai.



“PA, APAKAH HATI INI BISA DIAJAK BERDAMAI?”

Taman Tirta Gangga
Seharian penuh aku berkeliling beberapa lokasi yang sangat eksotik dengan Maestro, cukup melelahkan rasanya padahal aku hanya duduk disebelah Maestro yang masih gesit menyetir mobil, walau umurnya telah memasuki kepala enam. Aku merebahkan diri di sofa, sambil memperhatikan cecak yang saling berkejaran bercumbu dengan pasangannya di plafon villa. Aku melihatnya begitu romantis, bagaimana dia saling berciuman, saling kejar terus melakukan hubungan. Aku merasa diledek oleh kemesraan kedua bilnatang melata tersebut, pada saat mereka menyuarakan cek-cek-cek-cek-cek, tanda kepuasan mereka.
Maestro walau sudah tua dia masih senang menyetel lagu remaja di mobilnya, walau suaranya lamat-lamat berpacu dengan angin yang menerjang kupingku. Aku memang bepergian seharian ini menggunakan sebuah mobil terbuka, VW safari berwarna merah hati. Aku tak tahu kenapa aku menyenangi kendaraan ini, walau Maestro menawarkan beberapa pilihan ketika kami mampir ke galerinya. Disana kulihat terparkir beberapa mobil sedan dan jeep, seperti Mercy C –Class, Honda CRV, Nissan Teana, Jeep Ceroke maupun sebuah Hammer Hitam. Tapi aku sudah merasa nyaman dengan VW Safari yang ia gunakan menjemputku pagi tadi.

Sabtu, 16 Januari 2016

Winda 2 : Kerinduan Winda Kepada Ayahnya -1



“MAESTRO DAN KERINDUAN WINDA PADA AYAH”


Sungai Ayung dengan Kedamaiannya
“Cinta Memang Indah
Kala Kita Masih Bersama
Namun Tiada lagi kalau
Kau disana ku disini”
Benar juga ya pikir Winda tentang syair lagu tersebut yang dia dengar sayup-sayup terbawa angin di kala dia duduk di tepian tebing memandang aliran Sungai Ayung, yang menjadi bibir Villa Aryawinda. Cinta itu sangat indah kalau lagi berdua, tapi kalau sudah bubaran pasti ada yang merasa tersakiti dan terkhianati. Sudah dua hari dia di Bali, sambil menunggu pelukis yang hendak dia kunjungi, Winda direkomendasikan untuk menikmati Bali Timur dan Utara. Dia ditemani Mangde, sang sopir yang sedikit Jaim, yang selalu memakai kaos bajuri –itu lho yang tidak berlengan- sehingga bulu keteknya yang panjang melambai, dengan celana jin sepatu kets, dan tidak pernah lupa kacamata hitam Ray band nya. Dia selalu wangi dengan parfum yang bermerk.

Sabtu, 09 Januari 2016

Winda 1 : Duka Cinta Winda




“DUKA CINTA WINDA”


Add caption
Aku ingat hari itu adalah hari Sabtu, di awal Desember karena bunga-bunga Desember bermekaran di pinggiran jalan komplek rumahku bermekaran dan melepaskan bau yang sangat khas. Hujan rintik masih rajin mengguyur daerahku, yang sudah hampir sebelas bulan dilanda kemarau panjang.
Rencananya pagi itu Winda anak gadisku, mau belajar memasak. Kulihat bahan dan resep makanan yang ia rencanakan sudah siap diatas meja. Namun karena ia terbangun kesiangan kami dengan si Mbok mempreaktekkannya. Masakan nya adalah sebuah masakan Nusantara, yaitu kombinasi masakan Jawa Barat dan Bali.
Seperti biasa setelah bangun dia akan pergi ke ruang makan mengambil air minum, dia terkejut karena bahan yang ia beli sudah menjadi masakan. “Ayo sarapan sekalian, mama sudah masakkan resep yang kalian siapkan, mudah-mudahan enak Win”.
Sambil menikmati sarapan pagi, ku temani dia. Aku tahu kalau sampai bangun kesiangan pasti dia ada masalah, padahal yang kutahu semalam dia keluar pergi ke Senayan City untuk makan malam dan menonton sama temannya, sekitar Jam 00 30 kudengar dia sudah masuk ke kamarnya/ Dan Winda pun bercerita kepada ku, tapi dia minta tak ada komentar sebelum dia selesai berbicara. “Mama harus menjadi pendengar setia”.
Ma, apakah aku salah menjadi anak mama. Apakah kalau mama mengalami pengalaman pahit dalam hidup mama aku juga harus mengalaminya?.
Kisah cintaku selalu kandas ma. Semuanya itu karena perbedaan. Bukankah kata mamaperbedaan itu merupakan seuatu yang akan menjadi synergi menciptakan energi besar kala dia saling melengkapi, saling mendukung. Mana kebenaran teori itu, mana ma.
Cinta pertamaku saat menemani mama dinas di ujung Nusantara karena mama mau menjauhkan diri ke papa yang sampai saat ini pun belum kukenal, Kenapa ma, apakah mama tidak lebih berbahagia kalau mama tetap bertahan hidup bersama papa demi aku. Mama egois. Ku kenal seorang anggota tentara, aku sangat akrab sama dia. Mama menentangnya, mama memusuhinya sampai sampai aku back street, dan telah bersama-sama telah membohongi mama, sehingga aku menjadi anak gadis yang kesepian yang hanya bisa berharap tinggi. Kala itu alasan mama melarangku karena perbedaan. Perbedaan apa ma......
Aku menjadi anak yang mempunyai hati petualang ma. Lamunanku menyelamatkan aku dari badai tsunami cinta ini ma. Aku terombang ambing ma. Akupun menjauh dari mama. Kutempuh hidup di kota dengan mengais ilmu, mengais rejeki sehingga aku bisa menyelesaikan pendidikanku dengan jerih payah sendiri. Memang salah aku ma, aku sangat egois, aku sangat sombong aku lupa bahwa mama selama ini orang tua tunggal kami...... maafin Winda ma. Air matanya dan air mataku mulai menetes, dia semakin sangar saja bercerita.
Dikota itu cinta ku juga kandas karena perbedaan. Dia dilarang keluarganya meneruskan cintanya kepadaku. Karena aku tak bisa menunjukkan papa ku yang nantinya akan menjadi wali nikahku. Kenapa ma .... Selalu perbedaan itu, dia punya orang tua lengkap, dan aku tidak menjadikan harapanku buyar.... Kenapa ma jawab ma, jawab ma,
Cinta ketiga, keempat sama saja. Kenapa hatiku berlabuh pada pelabuhan yang salah. Selalu menghadapi perbedan ma. Kalau nggak budaya, masalah keyakinanlah, masalah kurang jelas trahnyalah. Pokoknya mereka selalu memasalahkam Bebet. Bibit. Bobot. Apa mereka tidak melihat prestasiku, tidak melihat pendidikanku, karier ku, Di ibukota juga sama saja ma.
Tadi malam dia telah memutuskan untuk tidak saling cinta kepadaku ma. Memang aku salah ma. Aku telah jatuh kepelukan orang yang sudah pantas menjadi ayahku. Aku sangat nyaman bersamanya ma. Aku tak tahu kenapa, pokoknya aku nyaman bersamanya. Maunya aku ingin tetap bersamanya ma. Dia tidak pernah marah sama aku, dia sangat baik. Namun mungkin aku sangat egois... aku tidak tahu bagaimana suasana hatinya. Aku hanya menuntut ngikuti suasana hatiku yang masih muda ini.
Aku sampai terlanjur berucap tidak akan ‘mencintai’ nya ma. Walau ku tahu dia menggoda dengan meng iyakannya, sehingga aku terlanjur malu. Aku bingung ma saat itu tak dapat kubendung air mataku. Secara berat kutanyakan benar ne kita berpisah.... Ia hanya tertawa dan bilang “itu kan mau mu sendiri win” , Kalau aku sama saja sampai kapanpun. Aku tidak pandai mengatakan cinta, aku hanya tunjukkan dengan prilaku, katanya ma. Aku sangat egois ma..... sekali lagi karena perbedaan ma jadinya aku memutuskan untuk menjauh darinya. Tapi sebenarnya aku masih sayang padanya. Kan itu watak cancer ya ma.
Sampai kapan ma... sampai kapan ma..... aku akan menghadapi perbedaam ini. Kapan perbedaan akan menciptakan keharmonisan, tidak selalu menimbulkan konplik didalam hati ku ma......
Diapun menangin sambil memelukku. Ku elus-elus rambut anakku, Kutenangkan dan kucoba menjawab semua keluh kesahnya.
Winda, dengarkanlah mama. Dengarkanlah sayang kau tenanglah. Kamu sebenarnya merupakan produk dari perbedaan itu. Dalam darah kamu masih mengalir darah Denro, karena mama. Papamu masih ada dan dia masih sangat mencintai mama. Sampai saat ini dia masih hidup sampai hari tuanya tidak menikah lagi. Sudah saatnya walau dengan rasa malu karena mama yang meninggalkan keluarga papamu. Maklum saat itu mama masih muda, sudah punya pekerjaan mapan, mama sangat di sayang sama keluarga papamu. Tapi karena restu dari keluarha Eyang di Jawa yang mama tak kunjung peroleh mama menjauh dari keluarga papa, bahkan mama berusaha tidak meninggalkan jejak.
Mama tidak pernah memberikan kabar tentang mu. Saat mama minggat beberapa kali papa membujuk balik tapi mama tidak mau. Itulah menjadikan mama seakan tak punya pijakan keluarga yang kuat. Keluarga mama sudah tak menerima mama. Sedangkan keluarga papa mu mama tinggalkan. Maafin mama, karena mama sangat egois.
Cinta menurut serat sastra. Bila ia datang pada seorang perempuan dia akan ‘buta’ tidak akan mengenal perbedaan, perbedaan SARA sudah tidak dia hiraukan lagi, apalagi perbedaan umur. Dia akan tabrak semuanya, karena Sang Dewi Cinta telah merasuk ke kalbu. Makanya kamu janganlah terlalu mengumbar cintamu -baca birahi-. Mama sangat bahagia kamu sangat terbuka sama mama terkait masalah ini. Beda dengan mama semuanya mama simpan dan jalani sendiri. Untung saja mama sudah mempunyai profesi dan kerja yang mapan. Pendidikan mama yang tinggi saat itu juga membutakan mata mama sehingga mama menikah dengan papamu.
Itulah cinta yang tidak kita ketahui kapan datang dan kapan dia akansinggah  padam dan kapan pula perginya. Dia akan selalu muncul dalam lubuk hati yang sangat dalam. Papamu sangat memuliakan wanita, Dia sangat yakin kalau wanita dimuliakan dalam keluarga, apapun yang dilakukan keluarga itu dalam doa, mudah2an akan dikabulkan Tuhan Yang Maha Esa. Maafkan mama meninggalkan keluarga papamu.
Kamu jangan menyalahkan perbedaan dalam  seluruh kegagalan cinta mu. Itu bukan kegagalan, itu hanya halaman demi halaman yang akan mengisi kisah hidupmu. Karena buku hidupmu masih akan banyak berisi halaman yang lain. Untuk itu mama pesankan nikmati saja halaman demi halaman buku hidupmu, tulislah kisah-kisah indah hidupmu disana, demikian juga kisah sedihmy, Karena sejatinya Tuhan menciptakan semua keberhasilan dan kegagalan, persamaan dan perbedaan, kenikmatan dan kegetiran. Nikmatilah semua itu akan terasa nikmat bila kau benar masuk dari sisi yang benar untuk menikmatinya.
Anakmu Winda, mama tidak melarang kamu berteman dengan siapapun, menjatuhkan pilihan kepada siapapun. Mama akan berbahagia bila kau berbahagia Winda. Jangan kau bersedih berlama lama. Waktumu masih panjang, mama sudah meridnukan cucu Winda.
Sudah saatnya mama memperkenalkan dan mengajak kamu menemui keluarga papamu. Dia seorang bangsawan di timur. Dia berdarah seni, Mama ketemu denganya di ibukota ini, saat mama menyelesaikan pendidikan Spesialis mama. Dia seorang Maestro, dia seniman. Minat seninya mengalir kepadamu, termasuk seni mencintai orang. Dia lelaki yang banyak dicintai wanita, namun dia lebih sering dikhianati, dia sangat pinter merayu dan memperlakukan wanita.
Itulah yang membuat tekad mama menikah dengannya. Mamapun sebenarnya sudah lihat semuanya Winda, semua lelaki yang kau cinta mama mengenalnya walau ada yang dekat ada yang dari jauh. Mama tak akan membiarkan kamu terlena dengan cinta itu.
Kalau kau perhatikan lukisan yang kau beli di Taman Ismail Marzuki yang kau pajang di kamarmu persis di depan tempat tidurmu itu, apa kau tahu itu lukisan siapa, dan siapa pelukisnya. Mama sebenarnya tertawa saat kau bawa lukisan itu. Itu adalah lukisan potret mama saat mama masih seusia kamu. Saat papamu mulai melirik mama. Papamu walau dia banyak di kejar-kejar wanita, dia mempunyai selera cinta yang agung. Mungkin tidak diketahui oleh gadis-gadis lain saat itu.
Kalau mama sih, mama punya rumus dalam memperjuangkan cinta mama. Bila mama cinta seseorang mama akan kejar sampai dapat, tapi kalau dia memang sudah berkhianat mama berhenti dan mama lupakan. Papamu persis kamu dia punya tanda lahir yang sama,yaitu torch di pangkal paha. Menurut papamu sih semua keluarnya memiliki tanda lahir yang hampir sama.
Papamu orang yang sangat mengagungkan cinta, dia hanya mencintai mama sehingga sampai saat ini mamapun masih berstatus istrinya, dan papamu tidak menikah lagi, Sudah saatnya kamu Winda mama perkenalkan dengan papa kamu, tapi mama harus mempersiapkan diri dan hati dulu termasuk mempersiapkan hati kamu Winda.
Kamu harus baca buku-buku yang ada di kamar mama. Untuk mempersiapkan hatimu sehingga tidak terlalu emosional, menyalahkan orang lain dalam kondisi mama seperti ini. Mama pasti akan memperkenalkan kamu dengan Keluarga papamu, sekalin mama mau minta maaf dengan segala upacara adat maupun keagamaan yang diperlukan.
Mama berharap sehabis kau ketemu keluarga papa, kamu akan menemukan cinta yang membahagiakan, mungkin kau ikuti karma ibumu Winda. Tapi mama yakin karma mama itu merupakan urusan mama. Bukan tertimpakan kepadamu.
Berhenti menangis, seka air matamu, cepatan mandi. Mama ada undangan makan siang di Mall Serpong ayo kita berangkat bersama, siapa tahu hatimu terobati dan lukanya cepat sembuh setelah kau meninggalkan pasanganmu semalam. Makanya pertahankanlah bila memang kamu cintai. Jangan diusik dengan masalah masalah sepele. Nikmati masa mudamu...... dan kita persiapkan diri dan mental ketemu keluarga papa di Pulau Dewata, kamu pasti bangga dengan papamu.
Rintik hujan diluar telah berhenti rupanya kedua generasi itupun masuk kamar masing-masing untuk mandi mempersiapkan diri ke undangan makan siang.

Pondok Betung, Bintaro Awal 2016