Social Icons

Selamat Datang di Blog Itik-Bali

Selamat Jumpa Pembaca yang budiman, selamat datang di blog ini. Blog ini dibuat hanya untuk proses pencurahan hati dan ingin menghibur pembaca sekalian.

Dengan bahasa ringan sehari-hari, saya ingin berbagi cerita pendek yang mudah-mudahan bersambung, sehingga pembaca sekalian diundang untuk melepas lelah dan penat di blog ini.

Semoga pembaca sekalian menikmati dan terhibur setelah membaca. Tentu komentar dan saran anda sangat kami nantikan.

Salam

Rabu, 22 Juni 2016

Winda -10 : Gejolak hati Winda



“ WINDA DI RAWAT,  TAK KUAT MENAHAN GEJOLAK CINTA DI HATINYA”


RS Sanglah Denpasar (google.com)

Tak terasa sudah lima hari aku terkurung di kamar rumah sakit ini. Aku merasakan badanku sudah kembali baik, tetatpi dokter belum memperbolehkan aku untuk pulang, katanya untuk obesrvasi lebih lanjut. Kebetulan Randa temanku juga melarangku jangan pulang dulu sebelum dia datang. Mungkin juga dia meninggalkan pesan kepada sejawatnya yang merawatku disini. Sudah beberapa majalah habis kubaca, Dokter Amir pun kala kutanya tentang sakitku beliau hanya tertawa saja. “Sudah Non Winda istirahatlah dulu” itu jawaban beliau.
Memang sakitku aneh, katanya sih hanya infeksi virus yang menyerang lambungku, menyebabkan badanku menggigil deman yang sangat tinggi. Aku takut bila aku kejang. Kata mama memang aku waktu anak-anak sampai aku remaja bila panas aku sering pingsan. Mungkin daya tahanku sudah lumayan tahan. Sejak akil balik aku sudah tidak pingsan lagi bila demam. Tapi kali ini aku takut bila aku mengalaminya kembali.
Mungkin karena persoalan yang berkecamuk dihatiku, yang menyebabkan asam lambungku meningkat, selera makanku menurun sehingga tidak ingat makan. Maunya makan Pizza saja, padahal sangat banyak ladanya, yang sebenarnya menjadi musuh lambungku. Sejak aku membuat keputusan untuk tidak menikah dan banting haluan untuk mengabdi kepada masalah kerokhanian dan kemanusiaan, dalam hatiku berkecamuk, kecamuk yang tak mampu kubendung. Inilah gelora cinta yang tak mampu kubendung. Ya Tuhan aku hanya manusia biasa, punya batas kemampuan. Apakah ini karma ku, yang biasanya dengan mudah melupakan kekasihku bila ku putus atau di putus.
Mama sangat menentang keputusanku untuk tidak menikah. Mama ingin aku tetap menikah, karena menurutnya. Sebagai wanita kita harus mempunyai tugas untuk melehirkan generasi penerus. Kuingat yang mama katakana saat itu. Winda Ingat Ingat, kita dilahirkan, untuk hidup berpasangan, untuk berkembang biak dan mencapai kebahagiaan.  Itulah salah satu sloka dalam weda yang selalu mama ingatkan kepadaku. Mama memang seorang akademisi, suka membaca termasuk buku-buku weda dilahapnya. Dalam beberapa tahun terakhir beliau terjun kedunia itu dengan spirit untuk ‘ngayah’.
Beda dengan papaku, walau aku lama tidak bersama dengannya. Papalah tempatku bersandar, idolaku seperti beliau, orangnya cuek, tapi romantic; pendiam tapi banyak petuah kalau diminta; jarang marah sebagai tempatku mengadu; beliau lebih banyak mendengar dari pada menasehati. Lain dah dengan mama. Papa menyerahkan keputusan kepada ku, “kau menikah ya silahkan papa akan ikut bahagia, kamu memutuskan tetap sendiri papa tak melarang, kau akan tetap menjadi anak papa, anak-anak kesayangan papa” katanya.
Hanya Kang Cecep sopirku, yang setia menemaniku hampir lina tahun terakhir, sebelumnya sejak bujangan Kang Cecep adalah driver mama. Jadi aku sangat faham dengannya. Kang Cecep, mengingatkan aku. “ Non, jangan terlalu cepat memutuskan sesuatu, pikirkan baik-baik, lebih baik non kansel saja dulu keputusan untuk tidak menikah itu”. Menurut Kang Cecep Solomo lelaki yang cocok untukku, karena dia merupakan perpaduan sifat papa dan mamaku. Orangnya memeng super cuek, sangat menyayangiku lebih dari menyayangi dirinya. Akan memberikan nasehat bila kuminta. Aku tak pernah dimarahinya. Malah aku sering menumpahkan kekesalanku kepadanya. Padahal masalahku bukan sama Salomo.
Aku masih mondar mandir di teras Paviliun Rumah Sakit MMC Bintaro, menyaksikan lalau gunung di selatan yang gagah menjulang, seakan ngeledek hatiku yang sedang galau, tidak bisa tegar setegar gunung itu. Ku bayangkan disanalah, disalah satu arah selatan Gunung Salak berada, tempatku sering berpasrah diri. Mencari kehadiran Nya. Sudah beberapa kali purnama memang aku absen, karena kegalauanku. Padahal merupakan saat yang tepat untuk meredam kegalauan hati.
Aku terkaget Suster Nining telah berdiri disampingku, mengingatkan aku untuk sarapan, karena Dokter akan visit lebih pagi. “Non Winda, sarapan dulu, sebentar lagi dokter visit, nanti saya dimarahi kalau Non belum sarapan, dan belum minum obat”. Aku tiduran saat dia mengukur suhu badanku, sambli memoh maaf meletakkan punggung telapak tangannya ke dahiku. Tensi bagus, suhu badan stabil 36 katanya. Lalu seperti biasa dia menyetelkan aku radio. Teredengar diradio lantunan lagu :Bila Cinta Menggoda” nya Chrisye.
Kami berdua, aku dan suster Nining ikut bersenandung. …… dan ijinkanlah aku mencintai mu…….. ku tak sanggup menahan gejolak cinta ini.  atau hanya berharap cinta darimu ... Nah begitu dong Non, Nining yakin non akan segera sembuh bila semangat seperti ini menjalani hidup ini. Hahahaha Sus Nining, Sus Nining apa aku selama ini tidak semangat menjalani hidup ini. Suster tak tahu gejolak hatiku. Aku sarapan ditemani suster Nining dan diakhiri dengan menyiapkan obat yang harus masih kuminum pagi itu. Iapun pamit dan aku merapikan diri, menunggu visit dokter pagi itu.
“Selamat Pagi Non Winda, wah pagi ini lebih indah ya?”  dokter Amir menggodaku. Winda bila aku melihat kamu, aku teringat mantanku, “yang orang Bali dulu. Jari lentik, mata tajam, pinggangmu jenjang, demikian juga betis panjang kekuningan, dengan rambut lurus yang panjang. Aku bisa klepek klepek lagi, bila membayangkannya. Aku tak jadi menikah dengannya karena dia mendapat kontrak menari di LN selama tiga tahun sambil mengambil pendidikan pascasarjananya. Dia seorang Psikolog. Ya sudahlah, akhirnya aku menikah dengan ibu, sambil berbisik karena ibu keburu hamil duluan”. Nah itu namanya jodoh Dok selaku. Kau beruntung Dokter Randa, kenal dengan Winda, semoga kalian berjodoh, kata Dokter Amir. Sebagai basa-basi Randa menjawabnya, amin dok.
Silahkan konsultasinya teruskan saja dengan Dokter Randa katanya, sambil menepuk punggungku Dokter Amir pamit meneruskan visit pasien lain. Tinggal aku dan Randa di ruangan, Nining juga pamit untuk mendampingi Dokter Amir melanjutkan visit. “Winda, aku bawakan kau Piza, kita makan Piza di teras saja sambil ngobrol kata Randa.
Hehehe kau Randa, tahu saja bahwa aku senang dengan Piza, bahkan tergila gila pizza belakangan ini. Padahal saat sama sama di Tokyo dulu aku tak suka bahkan anti dengan yang namanya pizza. Aku geli bila menjilat pastanya. Dia bawakan satu buah Piza Hawaian Chicken Pavorite, dengan potongan nanas di permukaannnya, ektra cheese dan dengan cemolan keju dipinggirannya. AKu heran dari mana dia tahu kesukaanku ya.
Randa masih sangat akrab denganku, dia memanggilku Mbak Win, kami berbeda tiga tahunan, pernah sama sama dalam satu organisasi senat saat satu Universitas di Jakarta. Kami tak tahu kalau dia masih ada hubungan kekerabatan dengan papaku. Sekarang dia dinas di Kutai Kertanegara. Dia ku kabari saat aku masuk rumah sakit, dan kebetulan dia ada di Jakarta. Katanya ada urusan dinas, menyiapkan peralatan yang akan didatangkan dari Jepang, jadi dia banyak berhiunungan dengan Kedutaan Jepang.
Sambil menikmati Piza, dia hanya mengatakan kepadaku, Mbak Win, kau batalkan keputusan itu. menikahlah. Aku taju kau sangat mencintai Salomo, Jangan biarkan batinmu bergolak, seperti gejolak cinta dalam lagunya Chrisye yang terlantun di radio tadi. Aku tahu mbak ku ini biasa dengan eksperimennya, tapi untuk keputusan menikah jangan main-main mbak. Karena di dalamnya akan bermain rasa yang paling dalam. Dia dapat mengaduk aduks egala isi hati kita, sama dengan tsunami yang pernah menyapu pantai timur Jepang. Ingat kan mbak!.
Kamu sok tahu Randa, kaupun belum menikah kok kamu menasehati mbak. Kataku ke Rangga. Hahahaha tawanya berderai. Menasehati itu tidak harus duluan mengalami mbak. Kalau menyembuhkan sakit mbak, apa Randa harus sakit duluan. Kan nggak kan mbak. Kalau Randa boleh menikahi mbak, akan kurayu mbak dan mengajaknya untuk menikah. Dalam kegalauan begini. Kayanya mbak mau…. Aklh kamu Randa bisa saja…. Kan kamu kuanggap sebagai adikku. “Itu kan hanya sebagai adik, mbak”
Randa mengeluarkan smartphonemya, dia memutar sebuah rekaman. Rupanya semua keluahku dia rekam secara diam-diam, dia bekerjasama dengan Dokter Amir dan Suster Nining. Pantesan Nining setiap pagi kekamarku selalu meyetelkan aku radio, rupanya saat itu dia mengambil dan menaruh yang baru alat perekam kamarku. Tidak bisa dik, aku telah membuat keputusan. Walau keputusan itu membuatku galau seperti ini.
Persis…. Kata Randa, Mbak Winda asam lambungnya meningkat sangat deras. Mungkin mbak Winda pernah mengalami iritasi lambung yang sangat akut, Ia ia aku ingat aku pernah OD saat aku kecewa, putus pertama dengan pacarku karena perbedaan keyakinan, dia menganggap aku tak punya keyakinan, dan memaksaku mengikuti keyakinannya. Tentu aku murka besar. Dia seenaknya memvonis aku tidak mempunyai keyakinan, makanya lebih baik bubar dari pada mengikutinya. Aku sangat idealis seperti mamaku, apa yang aku yakini tak boleh orang lain mencelanya, apalagi dia calon pendampingku.
“Nah itulah yang kambuh saat ini, lambungmu terluka parah, dan secara psikologis mbak lagi mengalami konflik bathin”. Semakin cepat mbak putuskan semakin cepat mbak stanbil. Bukan sehat, karena sejatinya mbak sehat, hanya mengalami kecelakaan kecil, luka lambung yang terus terinfeksi virus. Jangan biarkan hari bergolak lama mbak. Randa cuman sarankan mbak Winda, segera menikah. Titik.
Windi medekatkan mukanya ke telingaku. Randa, apa ini nggak pesan sponsor?. Bukan pesan mama?. “Nggak, ini professional, aku belum sempat ngobrol dengan mama dan papamu, walau kulihat tadi sudah ada di ruang tamu Dokter Amir”. Kami cuman sempat salaman dan beliaupun tak tahu kalau aku akan ke ruangan kamu Kak Win.
Randa mengeluarkan sebuah kertas darid alam tasnya. Kutaktahu maksudnya. Dia menunjukkan ke aku lembar keduanya. Aku disurunya membaca. Ayo Mbak Win, baca yang keras!
“Apabila didalam keputusan ini terjadi kekelirian, maka akan diadalan perbaikan sebagaimana mestinya”. Terus istimewanya apa Ran, tanyaku. Ya itu mbak, itu kutunjukkan pertama agar mbak ku ini ikut berbahagia, mendengar beriuta bahwa aku dipromosikan menjadi Kepala Dinas, dan kedua aku ingin mengingatkan mbak, bahwa setiap keputusan kalau itu salah bisa dan harus dilakukan perbaikans ebagaimana mestinya. Kami pun tertawa berderai Ha, ha, haaaaaaaa. Kamu benar, mbak akan pikirkan.
Jadi selama tiga hari ini, semua keluhan mbak di dalam kamar ini kau rekam ya Ran?. “Iya mbak karena aku tahu kebiasaan mbak, menumpahkan isihati sendiri di kamar, itu sangat ku ingat, makanya ku rekam ku pelajari. Nining mengirim copinya ke aku, setiap pagi lewat internet. Itu kesimpulan aku dan Dokter Amir tentang masalahmu mbak. Oke...... mbak akan fikirkan kembali keputusan itu.
Tepat jam 12 00 seiring dengan ketukan dipintu kamarku, Randa mohon pamit dan mohon doa restu karena dia akan menikah sebelum dilantik menjadi Kepala Dinas di Kabupaten Kutai Kertanegara. Aku ingat calon istrinya hitam manis, gadis sedaerahnya, seorang yang menekuni filsafat agama. Kelihatannya mereka sebagai pasangan yang cocok.
Pintu kamar kami pun terbuka, Randa salaman, dan Suster Nining mengantarkan mama, papa dan Solomo datang menjemputku. Aku saling melepas rindu sama mama, sama papa, dan tentu sama Solomo. Dia tetap cuek dan kalem seperti biasanya tidak terlalu menunjukkan ekspresi nya dihadapan mama dan papa. Suster Nining, sedikit berbasa basi dengan orang tuaku, dan papa memulai pembicaraan.
Kami duduk di kamar itu, Solomo duduk disebelahku, mama didepanku dan papa berdiri memulai pembicaraan. Bagaimana Win, apa kita ngobrol disini apa di rumah?.  Aku bengong. Lho memeng aku sudah boleh pulan?. Iya boleh sebenarnya sudah kemaren kamu boleh pulang, tapi semua itu harus menunggu Randa yang akan menyampaikan kepadamu. Tapi tadi Dokter Amir meralatnya, papa disuruh menyampaikannya. Rupanya aku tak dapat megontrol diri, aku berpaling memeluk dan mencium dengan penuh kasij Solomo, maka dan papa ke teras menikmati Piza yang ada dan aku sedikit melepas rindu kepada Solomo, dan aku berbisik ketelinganya “Sujatinya aku rindu mas”. “Iya aku juga sama, tapi ini rumah sakit, aku malu sama papa dan mama”. “Yah biarkan saja mas….. aku sangat rindu mas Solomo”
Siang itu berlalu, akupun pulang kembali kerumah, dianter Suster Nining, dan Dokter Amir sampai lobi rumah sakit, kami berlima pulang kerumah. Aku, Mas Solomo, Mama dan Papa serta Randa, hehehe Dokter Randa ikut ke rumahku.

Puri Gading, akhir Juni 2016

Selasa, 31 Mei 2016

Winda-9 : Keputusan Berat Winda



“WINDA TELAH MEMBUAT KEPUTUSAN BERAT”



 Keputusan Winda Tegas Selurus Jalan (www.google.com)

Windi ku lihat sangat anggun pagi ini, dia memakai kemben kuning berkebaya putih, selembar selendang melingkar dipinggangnya berwarna kuning tua. Dia langsung berjalan sendiri ke tempat sembahyang walau hari masih pagi. Sebagai orang tuanya kami tentu sangat bahagia melihatnya. Putriku yang tidak sempat kudidik masalah adat dan agama, telah tumbuh dalam kedewasaan, dia telah menemukan jatidirinya. Inikah pertanda dia telah siap menerima lamaran Salomo, yang telah berjanji besok akan datang dengan keluarga besarnya untuk membicarakan hari bahagia itu.

Kamis, 24 Maret 2016

Winda -8 : Akankah Cinta Lama Bersemi Kembali?



“KEGALAUAN SENJA MENEMUKANKU KEMBALI DENGAN MAS SALO”

Lukisan Wanita (google.co.id)
Kemesraan pertemuan antara senjadengan malam, kemesraan pertemuan antara sinar mentari jingga yang menjemput sinar rembulan malam menghiasi senja itu. Ku duduk merenung dan menyaksikan betapa kemesraan mama dengan papa ku. Mereka telah memakai pakaian kebesarannnya, kusebut begitu karena mereka pakai saat sembahyang. Pakian putih-putih yang sangat sederhana itu sebuah kain panjang yang membalut tuluh tua mereka, dengan sehelai kebaya bagi mama, dan sehelai baju koko untuk papaku. Dengan dipinggang mereka terbelit sebuah selendang dengan warna senada namun sedikit kekuningan.

Perpaduan antara senja dan malam, sandikala. Mereka berduaan duduk bersila menghadapi setanggi dupa, dengan penuh konsentrasi menyatukan fikiran kepada Nya memohon kesejahteraan dunia. ‘Sarwa Prami Hitangkarah’. Cukup lama mereka memanjatkan doa doa, dan memuji kebesarann Nya. Biasanya aku ikut mereka, namun kali ini aku absen karena sedangn berhalangan, sehingga aku hanya bisa menikmati lahiriah senja itu.

Burung migran masih kelihatan dilangit bergerombol terbang ke utanra, karena diselatan sudah mulai musim dingin. Kita sepatutnya meniru burung burung itu, yang selalu dapat menyesuikan diri dengan perubahan musim, atau kita harus mampu mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan iklim, pemanasan global, atau global warming kata para pakar iklim belakngan ini.

Sesaat pikiranku mengelana jauh kenegeri China, disaat aku pernah mengikuti Konferensi Internasional Perubahahan iklim. Sesaat satu persatu lelaki yang pernah mengisi hatiku, serta yang pernah hatinya kuisi melintas dalam benaknya. Kenangan manis serta manis berikutnya mampu menyunggingkan senyumku untuk bergembira malam itu, Padahal seperti biasanya hatikus edang tidak mood, karena aku lagi kedatngan tamu bulanan.

Aku dikagetkan, sebuah pesang WA masuk ke HP ku. Kulirik sejenak, hehehe dari Salomo, orang yang baru kulamunkan bersama lamaunan lain mengirimi aku pesan sangat mesara, sama seperti saat aku masih memadu kasih padanya. Isinya singkat. “Win, kau sedang dimana, aku di Pantai Barat sedang melepas senja, aku kangeun”. Aku sangat faham artinya. Dia sedang menikmati suasana pantai, suasana yangs erring kami cari dikala melepas senja. Solomo memang jaug terpaut umurnya denganku, dia sudah hampir 55 saaat aku baru melepas usia 25 ku. Namun aku nyaman sekali bersamanya.

Dia melepasku hanya karena keegoisanku, karena jiwa mudaku yang tidak memahami kesibukannya yang sudah menapak karier dengan matang, aku sering ganggu dia saar rapat, aku sering goda dia saaat melukis, sebuah kegiatan yang paling dia gemari sejak di bangku sekolah menengah. Kata Salo – maksudku mas Salomo- kepala sekolahnya seorang genius dalam ilmu pasti tapi mempunyai jiwa seni yang baik, seorang pelukis naturalis yang handal. Mereka sering menyebutnya Pak DeeS. Dia berpakaian sangat rapi, kacamatanya sangat bening, belum menikah sampai umur 55 tahun. Hehehe kok cocok dengan dia ya, jangan jangan like teacher like student.

“Aku ada di rumah papa, aku jua sedang menikmati senja mas, aku juga kangeun”  kujawab WA nya. Terus aku melanjutkan menikmati sore itu, melanjutkan lamanunan kecilku. Musik yang di stel papa karena sudah selesai sembahyang, masih kudengar lamat-lamat, berirama continental, dengan stair yang masih kuingat, karena sangat sering kudengar di kala pulang ke rumah papa. Kata papa itu lagu pop mandarin, dalam satu-satunya album sebuah band terkenal tahun 70 an.
Kenanganku di Kota Hongkong,
Penuh dengan kasih nan mesra,
Penari riang gembira,
Menambah suasana malam,
Rasa hati ingin kembali,
Semalam di kota Hongkong.

Ia lagu itu membuat lebih jauh lamunanku, kembali jauh ketika tiga malam aku bersfari melintasi Macau, Guangzau, Zuhai dan Hongkong. Hanya dalam tiga malam. Ketika setiap malam aku berpindah kota dan pindah hotel, bagai serombingan kaisar yang dijamu oleh tuan rumah, sersama Salomo mengikuti ceramah anta budaya yang dia lakukan atas undangan rekan kerjanya di Universitas setempat.

Aku heran kok bisa ya, karena kutahu Solomo seorang yang menekuni Ilmu Kebumian, Geo Sains tamatan Universitas Boston, hanya saja yang ku tahu PhD nya dia ambil dalam Sosial Affair. Akh semuanya itu tak perlu bagiku, hanya dalam hatiku berkecamuk kerinduan kepadanya, aku sangat kangen –kangeun- padanya, tapi ku tak tahu dimana dia.

Teganya dia tidak menjemputku malam itu, apakah dia tak tahu apa yang sedang berkecamuk di dadaku, apakah dia juga mengalami hal yang sama. Pikiranku menjadi kacau, sampai-sampai aku tidak sadar sudah mondar mandir di tepi kolam, didepan teras tempat aku menikmati hari sejak sore.

“Ayo Winda, siap-siap, apakah kau jadi ikut kami ke pembukaan pameran itu” suara mama lembut kudengar. Papa kulihat telah mengenakan pakaian sedikit formal, dengan celana kodorenya, dengan sebuah kemeja tenunan NTT yang sudah agak bujel warnanya. Mama hanya mengenakan rok bawahan senada warna dengan papa, dengan atasan kebaya.

Oke kataku, aku ikut, daripada aku galau dirumah sendiri. Ku tarik sebuah sweeter warba ping muda, kupadankan dengan celana panjang yang kupakai, dengan tanktop yang membalut ketat badanku yang sedikit montok. Suatu anugrah yang aku syukuri. Kata orang aku memiliki dada yang jenjang dengan bokong yang tidak terlalu besar. Aku tinggi seperti papa dengan pinggang jenjang, seperti kebanyakan keluarga papa. Hanya aku lebih beruntung dapat warisan wajah dan kulit putih dari mama,

Kami pergi bertiga, kali ini aku menjadi ajudan mama dan papa. Aku duduk di depan disamping Yande yang mengemdikan mobil, mama dan papa duduk di kursi tengah. Mereka kulirik dari kaca spion, sungguh mesra aku menjadi iri kepada mereka. Mesra sekali, walau usia pernikahan lebih dari tigapuluh tahun. Terima kasih Tuhan kau limpahkan kebahagiaan ini kepada kami, doa kupanjatkan melihat betapa bahagia dan mesranya mama bersandar di dada jenjang papaku.

Sebagai Ketua asosiasi pelukis professional, kami mendapat kehormatan mengisi meja yang didepan bertiga bersama papa dan mama. Papa memberi sambutan sebagai ketua asosiasi, aku tak menyimaknya, namun aku asyik dengan gadget ku. Aku meneruskan membaca pesan-pesan yang belum ku baca di WA.

Rupanya Salo, lagi berada di kotaku, dia bilang dia sedang berada di Pantai Kuta menikmati sundet, mebayangkan aku ada di mana mentari itu turun, di Jakarta Hahahahahaha, rupanya dia kangen berat padaku kalau kuperhatikan WA ku, karena dia juga mengirimkan sebuah foto yang pernah ku jadikan statusku. Rupanya diam-diam dia menyimpannya, karena akupun sudah tak punya. Lho fotoya kok sama memakai sweeter yang kukenakan.

Tepuk gemuruh terdengar diruangan itu, di sebuah ruangan pamer lukisan di pasar seni yang tidak jauh dari Kudeta, aku tidak menyadarinya itu kawan pantai Kuta. Aduh betapa kacaunya pikiranku, apa juga mungki karena kecuekanku, yang jarang mengingat masa lalu. Entahlah, itulah aku terkadang melankonias, terkadang aku bisa garang seperti harimau…. Namun hatiku tetap lembut, Narsis dikit.

Pemberi sambutan kulirik, lho kok rasanya aku kenal orang ini siapa ya. Kuseimak apa yang dia katakana dalam samutannya. Dia katakana bahwa pameran yang dia adakan kali ini, dia dedikasikan kepada seorang yang pernah dan masih mengisi relung hatinya. Seorang waanita berfikiran odern tapi tetap teguh memegang tradisi, sangat suka pada budaya walau dia mempunyai pendidikan modern.

Pikirku sanga berbahagia wanita itu, sampai-sampai dedikasi mantannya masih khusus dipersembahkan kepadanya. Kuperhatikan lho lho kok suaranya kayaknya kukenal sekali. Samar samar kudengar kembali dalam akhir sambutannya, bahwa lukisan-lukisan ini kami dedikasikan kepada seorang wanita, yang saat ini sudah menjauh dariku, namun aku yakin dia masih menyompan kenangan kami di hatinya, yang setiap saat siap untuk di bongkar kembai.

Mudah-mudahan dia berkenan hadir disini, karena beberapa hari lalu aku sempat mengiriminya surat undangan. Dia seorang wanita yang formal, tidak mau menerima undangan melalui media social, jadi kukirimkan kartu undangan untuknya.
Wanita yang kumaksud adalah Winda, dia seorang Arsitek yang sekarang terjun dalam kegiatan curator dan mengelola sebuah geleri seni di Ibu kota. Mudah-mudahan ia hadir di acara ini, dan aku ingin mengkudeta kembali hatinya.
Kami undang secara khusus dia Winda, kalau kau hadir di acara ini aku persilahkan ke atas panggung dan memukul gong memulai acara ini.

Aku tergagap, apakah dia Salo, apakah Winda itu aku, jangan-jangan Winda lain. Papa dan mama ku menoleh aku. Apa kamu Winda yang dimaksud. Ayo maju ke atas panggung. Dengan kaki berat dan hati berbunga bunga aku melangkah k eats panggung dengan pakian yang sangat sederhana, sebuah High Hell, Celana jean, tank top dan klaser pink mudaku.

Dia mejulurkan kedua tangannya dan berkata, filingku benar orang yang ku maksud benar ada disini. Kusamgut uluran tangannya, kupeluk erat-erat dia, kurasakan kembali degup dan irama jantung yang telah beberapa lama pernah kurasakan. Aku tak peduli dengan hadirin dan mama papa ku, aku terhanyut dengan rasa haru, dia sangat menghargaiku. 

Oke-oke kukatakan, terima kasih Mas Salo, maksudku Salomo yang telah mendedikasikan pameran ini untukku. Bersama ini pula aku menungundang para seniman yang hadir disini untuk memamerkan lukisannya atau hasil karya seni lainnya di Galeriku. Kesempatan langka ini juga kugunakan untuk promosi. Aku merasa sangat tersanjung dan mendapat kehormatan, karena telah dipanggil ke atas panggung ini, aku tak mampu menolak untuk melakukannya karena yang memintanya adalah orang yang sangat istimewa, seorang seniman besar.

Untuk kemajuan budaya kita dan kemajuan seni ku nyatakan pameran ini dimulai. Gong---- Gong----Gong---- Gong---- Gong. Kupukul gong yang sudah tersedia, sebanyak lima kali, angka yang hanya aku yang tahu. Kamipun diantar Mas Salo ke kedua orang tuaku, serta papa dan mamapun mengundang Mas Salo untuk datang ke rumah, untuk sebuah pertemuan yang masih belum ku tahu. Kankah Cinta Lama Bersemi Kembali. Biarlah sang waktu yang akan membuktikannya.
Malam yang sangat membahagiakan. 

Puri Gading,  Jumat Kelurut, Maret 2016

Minggu, 20 Maret 2016

Ayo Senyum



Yang Suka Boleh baca “Senyumpun Tak Dilarang”

Beberapa hal aneh saya alami dalam hidup ini yang mungkin susah dilupakan dan terkadang menjadikan geli bila mengingatnya, diantaranya saat baru menjadi:  murid sma, menjadi mahaisiswa, kerja sebagai PNS, dan kerja di beberpa tempat. Diantaranya akan ditulis sebagai bahan share semoga dapat mengundang senyuman atau kah menggugah kemarahan karena mengganggu emosi pembacanya. Itu harapan penulisnya tentu.
1.      Saat SMA
Kami masuk sekolah SMA, sangat jadul. Punya celana panjang hanya satu, kalau memakainya juga naik ke atas tempat tidur karena takut koior dan lecek. Saat itu kami menjadi anak kos. Umur segitu masih banyak geng di kota termasuk kota dima sekolah kami berada. Singkat cerita kami sering nongkrong di Jl Gajahmada setiap malam, karena suntuk belajar dan listrik juga masih belum terang. Di saat pulang kampong kami di siding orang tua, yang mendapay laporan seorang guru smp yang ngajar di kota yang sama. Kami di ceramahi orang tua panjang lebar. Kami hanya menenangkannya, dengan sebuah janji Kalau Kami bertanggung jawab dengan hasil maksimal dan ijazah tepat waktu.  Akhirnya orang tua tenang dan tidak mau percaya denga berita sejenis.

2.      Saat Kuliah merantau lebih jauh lagi.
Kami merupakan orang kampong kami yang mendobrak tradisi. Walau ada kebiasaan di kampong kami orang sekolah merantau pasti jual sawah atau tanah tegalan. Kami yang taka da warisan, memberanikan diri kuliah merantau ke ibu kota> Tentu kedua orang tua dan adik-adik merindukan kalau kami sesekali pulang. Suatu saat liburan saya pulang kampong. Biasa selepas sandikala (magrib) biasaah anak muda nongkrong di warung, ya neranilah karena uang TID –Tunjangan Ikatan Dinas- masih ada. Saat itu banyak sekali anak dara dab bujang yang nongkrong. Orangtua ku, tepatnya ayah melihat dan ikut masuk kewarung. Neliau langsung memanggil aku. Dengan pesan, tolong kamu pulang, nggak tahu tadi ibu mencari kamu. Cuma itu pesan kemarahan beliau, akupun pulang dan ngobrol sama ibuku. Kutanyakan apa benar beliau mencariku. Dia hanya ketawa. Nah itulah ayahmu, kalau anaknya tak pulang dirindukan agar pulang, sudah pulang dia pusing sendiri dan berharap cepat kembali ke rantauan, katanya. Betul saja tak lama ayahku menyusul pulang dan menyuruhku besok mencari tiket untuk segera kembali ke ibukota, dan melarangku lama lama libur di kampong. Alah makkkkk

3.      Saat Mulai Jadi PNS
Aku beruntung mengikuti pendidikan ikatan dinas, lulus hnaya dalam lima semester, karena ada program nasional diklat perhubungan, sehingga aku ikit widusa bulan Pebruari, padahal harusnya bulan Agustus. Kami langsung di angkat menjadi CPNS. Tapi untung tidak selamanya bisa di raih, karena pergeseran pejabat pengangkatanku terbengkalai sampai 1 Januari tahun berikutnya, sehingga jadi ‘pengangguran’ hampir setahun. Namun pengangur total rupanya tidak terjadi padaku, aku dikontrak kerja di Unesco selama empat bulan, dan tetap menjadi guru sma.
Hal lucu yang ku alami adalah saat libur ke kampong. Ibuku saat aku buka baju beliau bertanya apadaku. Apa kamu sudah kerja nak. Sudah kataku. Lho orang kerja kok tidak memakai baju kaos dalam. Hahahaha rupanya beliau memperhatikan kebiasaanku yang tak suka memakai kaos dalam. Beliau hanya berpesan : Kalau sudah kerja, pakialah pakaian dalam yang lengkap. Kalau bisa belilah satu potong pakian secara rutin, walau hanya itu celana atau kaos dalam. Ingat badan mu itu adalah assetmu yang paling  berharga. Itu pesan sederhana selalu teringat di benakku.

4.      Apakah aku merubah nasib orang?.
Saya ingat sekali suatu saat ketemu dengan stafku di salah satu subgidang di kantorku di  Jakarta. Kami ngobrol santai habis makan makanan kecil. Di ruangan memang sudah rada sepi karena kami pulang belakangan, ada yang masih di ketik setafku ini, dan aku menunggunya. Tiba-tiba ia berkata : Pak, coba kalau DP3 saya baik saja terus, saya sudah menjadi pegawai Departemen Keuangan pak, katanya. Ku jawab kenapa mas. Dulu tahun sekian, kan DP saya sempat tidak baik pak. Coba bapak paksakan untuk baik kan nasib saya tidak begini. Kira-kira itu ucapannya. AKu ternyuh, terus ku ingat, benar saja dia pernah beberapa lama meninggalkan pekerjaan tanpa ketahuan alasannya. Karena kakaknya sobatku, kupanggillah dia melalaui kakaknya. Dia datang aku suruh kerja seperti biasa. Saat membuat penilaian prestasi kerja kusuruh dia membuat sendiri sesuai apa yang pernah dia lakukan. Disitulah dia menulis salah satu unsur tidak baik. Kuingat itu. Lalu ku katakana, itu bukan saya yang membuat penilaiannya, kan kamu sendiri menilai dirimu sendiri kataku. Terus iya menjawab, coba bapak paksakan saya ngsisi baik semua mungkin saya sudah menjadi pegawai Departemen keuangan, karena saaat itu banyak pegawai ditempat kami menggunakan tawaran yang di berikan untuk pegawai instansi lain bergabung ke Departemen keuangan. Benar juga ya coba ku paksakan beri nilai baik, dia mungki merubah nasibnya di Deparemen Keuangan. Tapi ya sudahlah, itu karena ulahnya sendiri.

5.      Sangat Sportif
Kejadian lucu saat aku menjadi instruktur di Balai Diklat Penerbangan Jayapura. Seperti biasa ku acak dari siswa untuk maju menyelesaikan masalah. Pada suatu saat aku suruh siswa bernama sebut saja “Mote”. Kuminta dia menyelesaikan soal matematika sma yang sederhana hanya mencari penjumlahan matriks (2x3), dia belum juga menyelesaikan pekerjaannya padahal banyak temannya yang sudah melewatkan kerjaannya. Tiba-tiba dia mendekatiku. Bapak katanya, aku tak bisa mengerjakan soal itu pak. Hukumlah aku katanya. AKu terkaget, dan spontan bertanya. Hukuman apa? Yanyaku. Jawabnya : lari keliling lapangan 10 kali, atau push up 30 kali. Akhirnya kubilang tak usah, sudah kau duduk saja, nanti belajar lagi bapak kasih tahu.

Nah segitu dulu sharingnya …………….. semoga berguna.