Social Icons

Selamat Datang di Blog Itik-Bali

Selamat Jumpa Pembaca yang budiman, selamat datang di blog ini. Blog ini dibuat hanya untuk proses pencurahan hati dan ingin menghibur pembaca sekalian.

Dengan bahasa ringan sehari-hari, saya ingin berbagi cerita pendek yang mudah-mudahan bersambung, sehingga pembaca sekalian diundang untuk melepas lelah dan penat di blog ini.

Semoga pembaca sekalian menikmati dan terhibur setelah membaca. Tentu komentar dan saran anda sangat kami nantikan.

Salam

Rabu, 15 Oktober 2014

Sobar - 15 : Berawal dari Kesulitan Marlina Menemukan ....

“PENAMPILAN MODERN TAPI KONTENS TRADISONAL”

Add caption
Saya telah kembali menyambangi kampus, mencoba untuk membiasakan diri memulai aktipitas setalah buah hati kami lahir tiga bulan yang lalu. Kebetulan dikampus tidak mendapatkan jam mengajar karena administrasi akademik memahami kelahiran anak pertamaku. Anakku pertama perempuan, cucu perempuan pertama di keluarga Reno, maupun di keluargaku. Kegiatanku tidak banyak di kampus, hanya melepas rindu dengan teman-teman dengan teman sekerja akan kerinduan setelah lam cuti.

Biro konsultasi sudah tidak terlalu masalah lagi setalah aku mengikuti saran suamilku, dengan skype aku bisa melakukan konsultasi jarak jauh. Tapi aku tetap memerlukan asisten untuk bertatap langsung, dan aku mengintip dari monitor di rumah. Untuk diagnose aku memberikan advis atau keputusan, dengan dialog jarak jauh bersama asistenku. Teknologi membuat kita menjadi lebih mudah.

Benar saja apa yang dikatakan ibuku, dasrer motip kembang warna pink menjadi trending topik dan trending mode dikalangan ibu-ibu hamil. Kulihat di kamous maupun yang konsultasi kepadaku sangat banyak yang menggunakannya,  selera ibuku sangat modis, dan aku telah menjadi model promosi yang bagus. Padahal kalau kuhitung tak kurang dari enam bulan lalu mulai kugunakan daster itu setelah pemberian bapak.

Aku tak perlu khawatir bila meninggalkan putriku, mama sangat protektif seperti biasa yang lebih banyak merawatku, dan aku cukup memberinya asi, baik langsung maupun dari stok yang aku lakukan. Aku sangat beruntung air susuku sangat melimpah sehingga stok menjadi sangat melimpah. Yang kaya pabrik susu saja, ibu-ibu zaman sekarang. Lagi-lagi teknologi dan ilmu pengetahuan memberikan kemudahan pada ibu-ibu yang  memiliki bayi dan berkarier.

Siang itu aku coba mampir ke Kantor Biro, aku menyempatkan diri berkeliling melihat-lihat ruangan kantor, ruang tunggu, ruang istirahat . Eh ternyata sudah berubah total dekorasinya. Lagi=lagi aku dibuat tersanjung suamiku. Dia telah melakukan semua yang membuat hatiku senang. Dan selalu berfikiran mendahului keinginanku. Memang suami idaman, pantes saja Ibu Marlina menjadi kesengsem sama suamiku... atau bahkan mungkin dia kesengsem duluan dari aku. Terima kasih Reno telah membahagiakan aku kuucapkan sendiri. Padahal dihadapannya aku sangat pelit memujinya. Dia yang lebih banyak memujiku. Ini bertentangan dengan teori psikologi perkawinan, yang dianjurkan untuk selalu memuji pasangan. Hahahaha lain teori lain praktek kataku.

Aku mencoba somai yang menjadi langgananku sebelum hamil, mangkal tidak jauh dari kantor biroku. Dengan sangat berhati-hati dan terkontrol asupan makanan ke perutku, kupilih somai yang kira-kira tak membuat kualitas susuku memberikan hentakan kepada putriku. Jadi yang tawar-tawar saja, tidak banyak bumbu dan sedikit pedas. Aku ingatkan lebih awal tukang somaynya.

Tak lama sehabis menyantap sepiring somay, Reno datang. Diapun telah memesan somay juga. Kulihat dia seikit lelah, itu dapat kulihat dari raut muka dan rambutnya yang agak awut awutan. Aku duduk disebelhnya, ku keluarkan sisir dari tas ku, kusisiri rambutnya, agar lebih rapi. Kataku kepada Reno, walau sudah punya anak penampilan tidak boleh berubah. Kelihatannya diasangat bahagia dan mengecup keningku.

Kulihat dia makan somay sangat lahap, itu berarti dia ada problem di kampusnya. “Ada apa pa, kok kelihatannya ada masalah?” tanyaku. “Tak apa-apa. Hanya sedikit itu mahasiswaku sudah diarahkan berkali-kali kok tak bisa menerjemahkan ideku dengan baik dalam prakteknya!” Ya sudah tak usah terlalu dimasukin hati, biasa mahasiswa mungkin juga dia banyak persoalan. “Ok kita tidak membahas masalah mahasiswa” “Fokus dulu nikmati somay nya” kubilang sambil menyuapinya. Diapun tak sadar kalau aku suapi. Dia menghabiskan pesanannya dengan cepat. Hehehe Luna kau—kau---lupa, kenapa menyuapi ku. Kan aku tak mau disuapi selama kita nikah heheheh...  “Nggak apa-apa, disuapi juga kan oleh istri tercinta” kataku.

Jalan menuju pulang Reno mengajak aku mampir ke sebuah Restoran yang menjadi langganan para ibu-ibu yang habis melahirkan. Disini disipakna aneka jenis masakan yang dapat segera merangsang peningkatan stamina, maupun merangsang air susu ibu. Merupakan masakan sehat untuk ibu-ibu yang habis melahirkan. Itu bisa kubaca dari daftar menu, dan katalog masalan yang tersedia pada setiap meja. Reno tahu saja ada restoran seperti ini.

Dalam kasyikan aku menyantap sup kepala ikan, daun katuk. Suara yang sangat kukenal menyapaku. Ku toleh, e ternyata Marina, berdir dibelakangku lagi disalami oleh waittress, mereka sangat akrab sekali. Mungkin dia salah satu pelanggan disana. “Selamat Siang Luna, selamat datang di restoran kami” “Lho restoran baru ne Bu Marlina”.

Iya memang restoran ini milik Marilna, dia mempermodern Rumah Makan Padang dengan konsep  resto, dan memadukannya dengan menu khusus, terait dengan kesehatan. Ada menu untuk keperluan ibu hamil, keperluan untuk ibu menyusui, untuk penderita diabet, untuk penerita kolesteraol dan lain sebagainya. Restoran padang Konsef cafe dengan menu masakan pelanggan berkebutuhan khusus.

Dengan nikmatnya aku menyantap sop kepala ikan, rasanya enak, gurih dan menyegarkan dibuat khusus dengan tambahan daun katuk sehingga merengasang produksi air susu, dan rendang ikannya yang sedikir crispi membuat nafsu makan siangku lumayang meningkat. Demikian pula dengan minumannya adalah ‘tuak bambu, walau sedikit anyep diyakini akan sangat baik sebagai perangsang air susu” itu warisan tradisional setempat. Pikirku Marlinda memang brillian dia pintar di kampus, juga pinter melihat peluang, masuk kesegmen pasar yang masih kosong.

Marlina berbicara panjang lebat dengan restorannya, dia juga menceriterakan anak lelakinya yang sudah lari-larian, kelihatan sekali putranya lincah dan cerdas ketika kuampiri. Dia indo tapi kelihatannya sangat kental tradisi nya. Perpaduan yang serasi antara budaya Perancis dan Indonesia. Kata Bu Lina Rapayu, mengendaki satu anak lagi , tapi rupanya Marlina takut karena sudah cukup umur. Dia menyampaikan niatnya untuk datang ke Biro untuk mengkonsultasikan masalah itu.

Rapayu, kerjanya lima-dua, dia sedang menginstalasi Laboratorium Mekanik di Politeknik Negeri Banyuwangi, bantuan pemerintah Perancis. Lima minggu kerja dua minggu libur, atau lima hari kerja dua hari libur. Terserah dia mengambilnya, apalagi Banyuawangi Denpasar tak begitu jauh, kudengar dari Marlina dia sering bolak baik setiap minggu. Terkadang Marlina mengunjunginya kesana dengan mengajak buah hati mereka.

Hampr satu jam lebih kami menyantap hidangan yang kami pesan, sambil ditemani Marlina yang kebetulan katanya belum makan, Renopun menghilang sehingga kami bebas berbincang maslaah perempua. Marlina seorang rpofesional, dia sangat menghargai saranku karena dia minta walau, dia Dosen senior, yang sangat dihormati koleganya sesama dosen, dan disegani serta takuti mahasiswanya. Tapi masalah psikologi banyak berkonsultasi padaku. Dia menyadari ada gap psikolgi antara dia dengan suaminya, karena perbedaan budaya, perbedaan usia dan perbedaan-perbedaan lainnya. Selama ini dia mengapresiasi semua sarakku, dan mengatakannya berhasil seperti harapannya.

Dia juga seorang klayen yang sangat cerdas sering memberi aku masukan. Intinya kami sudah bisas berbagi ilmu. Kusarankan agar diperbanyak promo restorannya, biar lebih dikenal masyarakat. Malah dia lebih memilih memanfaatkan promo tradisional lewat ibu-ibu pengajian maupun ibu-ibu arisan.
Renopun telah kembali. Mereka permisi kepadaku untuk berbincang. Rupanya Reno menghilang berkeliling melihat lingkungan restoran. Reno memberikan beberapa masukan ke Bu Marlina, karena menurut nya Reno lebih spesialis dalam deko, dan selera seninya lebih kekinian kebanding Bu Marlina.

Kudengar Reno menyarankan mengganti beberapa lukisan dekorasi yang ada. Bahkan dia menjanjikan beberapa lukisannya dapat di pakai. Reno menyarankan agar menyediakan tenpat bermain anak – anak di sebidang tanah samping kiri restoran, dipilih permainan massal yang menjadikan anak-anak dapat berinteraksi sesami anak-anak terutama balita sampai sepuluh tahunan.
Pencahayaan di puji Reno, memang Bu Marlina sangat menatanya dengan apik. Hanya saja peralatan makan untuk menghidnagkan makanan mungkin akan lebih baik bila disesuaikan dengan zamannya, tidak kaku dalam patron kondep tradisional. Reno akan mengajak seorang mahasiswanya yang jagi IT untuk mendesign sebuah laman yang dapat mempromosikan Restoran ini. Dan yang tak kulupa juga saran Reno kepada Bu Marlina, agar menganekaragamkan ruang-ruang makan privat, dengan berbagai ukuran karena segmen yang disasar Restoran ini adalah keluarga.

Demikkian pula dengan billboard neon di pintu masuk, agar lebih mencolok lagi  dan lebih berani menonjolkan keunikan restoran ini. Menjelaskan bahwa restoran ini Restoran Keluarga, Sehat, perpaduan tradisi dan modern. Jadi sasaran bidik restoran ini jelas adalah keluarga, menghidangkan masakan tidak saja enak tapi lebih utama sehat, dengan menu tradisonal yang ditampilkan modern.
Marlina menerina usulan Reno, dengan beberapa cacatan yang mereka janjikan akan dilanjutkan diskusinya di kampus, bia perlu melibatkan mahasiswa yang akan mendesign wedsite untuk promo daring restoran tersebut.

Tak terasakan haripun, sudah mulai menuju senja. Kami menyusuri jalan, dan teringat masa-masa pacaran kami bersama Reno, bagaimana dia merayuku kala itu, walau aku agak kaku, karena memang aku tidak pengalaman pacaran. Dengan pengalaman menata emosi aku dapat mengimbanginya. Mentari jingga telah miring kebarat mau kembali keperaduannya. Mobil dikendarai Reno dengan kecepatan menengah. Masih jelas aku dengar lagu yang dia stel di audio mobilku. Lagu Cinta Durjana, kesenangan bapak rupanya dia stell, mendayulah lagu tersebut sepanjang perjalanan,

Aku hampir tertidur mendengarkan lagu-lagunya Tarantula, namun kutahan karena aku tak mau membuat Reno kecewa yang telah mengajak aku menikmati makanan sehat, sedap di Restoran Keluarganya Marlina. Dia menceritakan bahwa ide mendirikan restoran itu datang dari kesulitan Marlina mendapatkan makanan yang dia inginkan selama hamil maupun melahirkan. Akhirnya dia ketemu temannya Pak De, yang menekuni tanaman herbal, yang memberikan masukan kepada Marlina tentang makanan sehat, dari tanaman sekitar, sehingga keinginan makanan seperti serombot, botok dan lain sebagainya selama kehamilan serta selama menyusui dapat dia ciptakan dengan mudah dengan konsultan Pak De tadi. 

Sebelum empat lagu habis, aku sudah sampai di rumah. Kulihat ma,a dan Ibuku sedang bercengkerema di teras, entah apa yang dibicarakannya, bapak kulihatb asyik bermain badminton dengan keponakanku di seamping rumah. Suatu pemandangan yang sangat membahagiakan. Ternyata bayiku baru saja tidur, sehingga nenek-nenek mereka . Reno memarkir kendaraannya di garasi, aku bersalaman dengan mama dan ibuku, serta menghampiri bapak seperti biasa bapak berhenti sejenak kusalami dan kucium tangannya.

“Ayo kek”, kata ponakanku. Kudekatid an kuusap kepalanya setalah mencium tanganku. Akupun berlalu ke kamar menengok bayiku yang sedang tertidur pulas. Hari ini kulewati dengan tenang dan nyaman, sehingga kekhawatiranku untuk meninggalkan bayiku kerja tidak beralasan lagi. Seiring dengan datangnya magrib, sandikala, semua akhirnya berkumpul di beranda menikmati teh sore. Suatu kebahagiaan tersendiri.

Pondok Betung, 16 Oktober 2014.




Jumat, 10 Oktober 2014

Rani-24 : Ingin Menikah Muda



“PERMOHONAN KAWIN MUDA GENERASI PURI ANYER”


Bandara Ngurah Rai
Ladawa menikmati hembusaN angin laut pagi itu. Matahari telah menjilat tubuhnya yang masih kelihatan kekar dalam usianya sekarang. Ia menIkmati riangnya burung laut yang mengintai ikan yang naik kepermukaan lalu menyambarnya untuk dimakan dan diperebutkan di udara bersama temannya, suatu pemandangan yang sangat mengasikkan. Ladawa tak menghiraukan bule yang lalu lalang dihadapannya, yang juga menikmati pantai Senggigi. Pesawat ampibi yang mengantarkan tourist dari Bali sudah mendarat kedua kalinya, dia masih belum beranjak dari tempat bermalas-malasannya di antara kolam ranang dan  tepian pantai, Selat Lombok. Seperti biasa dia akan menikmati paginya di akhir peckan dengan pakaian kebesarannya, sarung dan t T Shirt putih merk Swan Brand.

Ladawa sangat menikmati hari tuanya, cucunya Cok Rai sudah mulai beranjak dewasa, kelihatan mengikuti gayanya, walau masa itu telah hampir empat tahun silam. Berambut gondrong, suka dengan celana kanvas serta baju kemeja lengan panjang yang selalu dilipat. Akh like grandpa like grand son katanya. Cok Rai pun tak mau mengikuti kemauan Ladawa yang ingin menyekolahkannya pada sekolah bisnis, di Jakarta.  Dia tetap memilih tetap bersekolah di Mataram, dia mengambil kuliah di Teknik Sipil. Tapi ia berjanji kepada kakek-neneknya kelak akan menekuni sekolah bisnis saat  pendidikan pasca sarjana nanti. Salmah kelihatannya masih asyik menyiapkan hidangan santai di dapur Villa Salmah bersama  chep in charge, kesukaan Ladawa, Lempog Singkong gula merah , dengan Kolak pisang raja campur kolang kaling. Sangat sederhana sebenarnya. Salmah memang agak lambat menyediakannya pagi ini karena ia melakukan spa dulu, biasa agar tetap segar. Salmah sangat menikmati kebahagiaan yang pernah lama ditinggalkannya, karena mengikuti kata hatinya, penyesalan akibat ulah keluarganya masa lalu. Itu sudah dilupakannya. Keluarganya semua sudah bersatu menyadari kekeliruannya.

Kamis, 02 Oktober 2014

Kuantar Kau Ke Gerbang Cita-Citamu

KUANTAR KAU KE GERBANG CITA-CITAMU

Pagi itu mentaripun enggan muncul
Kumasuki gerbang itu lagi
Rasa itu masih terasa sama
Walau sudah berlalu hampir empat puluh tahun
Mengejar cita-cita menjadi undagi
Kutinggalkan gerbang itu untuk cita-cita yang lain
Anakku

Aku kembali ke gerbang ini untuk mengantarmu
Masih terasa auranya
Dia masih angker
Namun dia terlihat kelelahan
Terlalu banyak beban yang ia pikul
Dan anginpun terasa sudah susah lewat

Terlalu banyak gedung telah berdiri berimpitan
Terlalu banyak orang menyandarkan cita-citanya disini
Terlalu banyak pencari nafkah disini
Dan ruang parkirpun sudah susah kucari
Sesusah aku temukan sepeda gayung
Kendaraannku mengejar cita cita ku saat itu

Anakku, kejarlah terus cita-cita mu
Perjuangkan cita-cita ayahmu yang kandas
Tertindas cita-cita yang lain
Akibat kemiskinan yang mendera
Bukan karena aku menyerah
Kaupun tak boleh menyerah
Majulah kuantar kau sampai gerbang cita-citamu

Anakku, kehidupan memang keras
Sekeras batu karang di  bukit
Bukit yang kita lewati tadi
Dikiri kanan jalan berliku yang kita lewati
Seberliku perjuanganmu menempuh cita-citamu
Kau harus pandai memanfaatkan jalan yang berliku ini
Jalan ini untuk kita bersama
Berhati hatilah

Anakku zaman telah berubah
Zamanku beda
Zamanmu juga demikian
Berjuanglah sendiri
Spiritku , spririt keluargamu semua akan mendorongmu
Mempercepat laju perjuanganmu

Perjuangan itu suatu proses perjalanan anakku
Nikmatilah perjalanan itu
Kau petik pengalaman indah disana
Cerialah terus dalam perjuangan
Kau harus menang
Kau harus kembali dari gerbang itu membawa cita-citamu
Kunanti kau bebapa tahun lagi
Di gerbang ini anakku

Selamat berjuang anakku.

Minggu, 28 September 2014

Rani 23 : Kebahagiaan Ladawa.



“BERBAGI KEBAHAGIAAN DENGAN SALMAH-LADAWA”

Festival Layang-layang (detik.com)
Pagi itu mentari telah menerobos masuk ke dalam kamar masing-masing yang berjejer di Puri Gading, di Bale Bengong samping kolam sudah terlihat duduk berdua dengan Salmah, maklum mereka tamu disana. Mereka menghormati besan dan menantunya untuk bermalam pada malam yang membahagiakan itu. Maklum acara tadi malam membuat merka harus pulang bersama. Mereka mengumumkan kepada keluarga besar Cokde dan Keluarga Besar Ladawa yang sengaja diundang untuk datang di salah satu Hotel di kawasam Pecatu, kaki Pulau Bali di dekat Pantai Dream Land.

Malam itu acara syukuran HUT kedua putra kembar Rani, sebagai nazar Ladawa setalah Rani melahirkan anak kembar laki-laki, sehingga Rani telah mempunyai tiga anak laki. Anak kembar ini mereka , anak yang lahir pertama mereka berikan nama Cok Raka Anyer dan yang lahir kedua mereka kasih nama Cok Rai Gading. Kanjeng Mami sangat setuju untuk memberikan Rai Gading untuk diasuh oleh Salmah dan Ladawa.  Ladawa memanmerupakan anak tunggal yang hanya satu puti yaitu Rani.  Ladawa akan menunjuk Rai Gading kelak sebagai penerus dan pewaris usahanya.

Malam itu Ladawa mengumumkan bahwa sebagian besar warisannya dilimpahkan kepada cucunya Rai Gading, yang telah disyahkan Notaris, untuk didaftarkan di pengadilan sehingga mempunyai kekuatan hukum. Ladawa tidak mau cucunya kehilangan sosok orang tuanya sehingga meminta ijin secara berkala akan mempertemukannya dengan orang tua mereka, karena dia merasakan betapa seunyinya sebagai anak tunggal yang terpisah dengan orang tuanya.

Ladawa memang anak tunggal keturunan seorang bangsawan Lombok, yang migran ke Lombok sudah beberapa ratus tahun lalu. Dia merupakan generasi ke empat disana. Hanya saja secara historic keluarga Ladawa merupakan keluarga yang tidak mempunyai banyak keturunan. Demikian pula di kampong aslinya di Karangasem, sampai saat ini tidak banyak keluarganya. Ladawa sering berkelakar, bahwa keluarga besarnya walau tidak dihimbau telah melaksanakan program Keluarga Berencana.

Sebagian lagi warisan Ladawa akan di gunakan untuk meneruskan kegiatan Suster Saalmah selama ini, untuk mengembangkan Panti Asuhan yang sudah mulai dirintisnya di Lombok, dan kampong asal Ladawa. Rai Gading akan meneruskan mengelola Ladawa Group sebuah perusahan yang bergerak dalam bidang Properties, kontraktor pembangunan jalan, Hotel-Villas, tempat destinasi wisata serta mengelola cabang Klinik Water Born di kota Mataram yang akan diresmikan dalam waktu yang tidak lama lagi.
Keluarga Cokde, terutama Kanjeng Mami sangat memahami maksud Ladwa dan Salmah, walau sebenarnya Cokde dan Rani agak berat menyerahkan pengasuhan putra mereka kepada Mama Salmah. Kanjeng Mami meyakinkan Rani bahwa Rai akan di urus dengan baik oleh Suster Salmah, karena Raid an kedua saudaranya juga merupakan cucu mereka juga. Walau adat di kampong kira masih menganut garis keturunan ayah.
Kanjerng Mami meyakinkan Cokde dan Rani, bahwa Rai tidak akan kehilangan apapun terkait dengan Puri Anyer, hanya saja mereka akan ditambahi tugas untuk lebih berbakti pada Ladawa Salmah, dibandingkan dengan kedua saudara lainnya. Toh Salmah sudah merawat Raka dan rai, demikian juga kakaknya Cokde Junior, Kanjeng Mami melihat betapa tulusnya Salmah menyayangi mereka bertiga, sehingga tidak ada alas an untuk menghalangi mereka untuk mengadopsi menjadikan cucu keturunan dalam.

Sambil menikmati suara degung Bali kelihatan Ladwa dan Salma bercengkerema menikmati pagi ttu. Salmah membantu Meyan menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarga. Ia membawakan Ladawa sepoci teh dengan gula baru, serta beberapa potong lempog telo, yaitu semacam getuk lindri bali, hanya menggunakan gula merah dan parutan kelapa.

Teh poci gula batu merupakan minuman kesenangan Ladawa sejak muda, yang tidak pernah dilupakan Salmah pada setiap menikmati waktu luangnya Ladawa. Meraka masih ingat saat-saat mereka pacaran di Surabaya saat Ladawa masih menempun pendidikan di Fakultas Teknik sebuah perguruan tinggi negeri terkjenal di kota buaya itu.

Sejak muda memang Ladawa sudah sangat suka berbisnis. Sambil kuliah, sisa uang kiriman orang tuanya yang seorang jurahan beras di Mataram, digunakan untuk membeli becak, sehingga sampai tamat Ladawa sempat memiliki 380 buah becak. Dari langganan becak inilah sebenarnya Salmah dan Ladawa dipertemukan. Dan menikah setelah Ladawa lulus dan menunggu saat diwisuda.

Salmah meninggalkan Ladawa menikmati pagi itu dengan melihat – lihat alunan air kolam, beberapa burung liar menumpang mandi di sana, sungguh suasana yang mendamaikan hati. Dia memperhatikan Salmah. Betapa sayangnya Salmah kepada ketiga cucunya sehingga setiap ia ke Puri Gading, ketiga cucunya minta Oma Salmah memandikannya, dan Meyan dapat istirahat sementara.

Kata Kanjeng Mami, memang cucunya sangat beruntung dipertemukan dengan neneknya kembali, sehingga dapat menikmati kebahagiaan lebih. Kelebihan kebahagiaan itu di bawa oleh Salmah, sebagai penyegar atmosfer puri. Dia sangat pintar membawakan diri, walau merupakan cucu kandung ketiga anak Rani, dia sangat hormat dan tidak mau menynggung perasaan Kanjeng mami. Mingkin karena keduanya masih merupakan keturunan dekat dari keratin.

Keduanya menikah keluar tidak direstui orang tua mereka, walau belakangan hubungan mereka sudah baik, bahkan kakek Rani sudah beberapa kali berkunjung ke puri bersama Salmah Ladawa, menengok cicitnya. Kebahagiaan Ladawa rupanya tak mau diusik oleh keluarga Cokde.  Meraka membiarkan Ladawa menikmati paginya sampai siang di Bale Bengong.

Kanjeng Mami, Oma Salmah, Cokde dan Rani telah menyelesaikan sarapan mereka. Ladawa pun ketiduran dalam alunan Degung Bali, dihibur beberapa burung ‘becica’ yang asyik mandi di kolam yang mengalun diembus angina pagi itu. Sampai Salmah membangunkan bersam ketiga cucunya datang ke tepian kolam.

Ladawa terbangun dan buru-buru mengusap usap matanya, sambil mengulurkan tangan agar cucunya mau dipanmgku, ketiganya berebitan. Cokde Junior yang sudah pasti menang. Raka dan Rai di pangkuan Salmah. Ladawa menceritakan baru saja bermimpi terbawa memori saat dia masih di Surabaya. Dia sering ngobrold dengan para tukang necak bawahannya. Seseorang yang mereka sangat ingat yaitu Cak Gandar.
Cak Gandar seorang tukang becak yang sangat ceria, dan sangat menyayangi keluarganya, sehingga setiap pagi dia minta ijin untuk mengantarkan keliling akak-anaknya berkeliling alun-alun. Sambil mengayuh becak dia akan bercerita atau mendongeng pada anak-anaknya yang dipangku dan disuapi oleh ibunya. Sekitar sejam dia membawa keliling anaknya sampai tertidur dam diajak pulang istrinya. Dia pulang sambil menikmati sarapan yang disiapkan minum tej tubruk gula batu penambah stamina narik bea seharian.

Nah teh poci yang Oma Salmah siapkan tadi rupanya membangkitkan memori Kakek sehingga kakek ingat dengan teman kakek yang tukan becak, Cokde Junior pun bertanya apda ladawa “Becak itu apa kek”. Itu alat angkutan yang berroda tiga di kayuh tukang becak seperti sepeda, dan penumpangnya duduk di depan.

“Salmah, he Oma Salmah aku lupa, aku ingin mendongeng nanti kepada cucu-cucuku, aku harus siapkan dengan baik dulu bahasanya, dan merefresh kembali memoriku tentang dongeng Cak Gandar yang dulu banyak deceritakannya kepadaku. Mudah-mudahan ada keluarganya yang masih kenal aku. Ingin rasaya aku menemui mereka, berbagi kebahagiaan” ucap Ladawa.

Rani sudah terdengar memanggil ketiga putranya, untuk bersiap pergi ke perlombaan laying-layang yang diadakan di pantai Sanur. Mengingatkan Oma dan Opa Ladawa untuk bersiap berangkat, kendaraan telah siap. Meraka berangkat menuju tempat Festival Layang-layang Internasional yang mengundang par ape laying-layang manca negara disamping dari dalam negeri, rupanya ada yang databng dari Hongkong, Guangzu, Kyoto, Osaka, Taiwan, Singapura, New Delhi maupun dari Kuala Lumpur.

Meraka berangkat dua mobil, sampai di tujuan laying-layang sudah mulai mengudara. Betapa riuhnya para pengiring dan sporter laying laying itu. Ada yang diiringi tetabuhab, ada yang diiringi pakai sorakan dan berbagai suprot lainnya. Ketiga cucu Ladawa ikut berlarian kesana kemari melihat laying laying yang yang sedang diadu. 

Cokde dan Rani sibuk mendokumentasikan festival dan keceriaan anak-anaknya serta kemanjaan anak-anaknya bercengkrema dengan Kanjeng Mami, Oma Salmah dan Ladawa. Sungguh suasana masa anak-anak yang sangat menyenangkan.

Puri Gading, September 2014.

Rabu, 03 September 2014

Sobar : 14 Daster Pink Motif Kembang, Luna

“DASTER PINK MOTIF KEMBANG LUNA”


Add caption
Kurasakan pagi ini tidak begitu cerah,  hampir sudah jam sembilan, matahari kelihatannya enggan menampakkan dirinya, anginpun sepoi membuat kulit ini dingin merinding. Padahal sebentar-sebantar aku harus uwek-uwek mencari wastafel. Sarapan pagi yang selalu ada bubur Manadonya membuat aku agak enek. Tapi kata mama –mertuaku- bubur Manado baik untuk wanita yang sedang mengalami sindrome mual dan muntah-muntah pada kehamilannya, Jadi untuk menghormati beliau akupun tetap harus melahapnya.

Mama terlihat super protektif terhadapku, maklum karena aku mantu pertama dan janin yang ada dikandunganku adalah calon cucunya yang pertama. Tapi pernah kudengar mama cerita dia akan memperhatikanku, karena ia yakin bahwa aku adalah reinkarnasi mama Lasteri, kakak tiri mamaku. Mama Lasteri dikala hidupnya sangat sayang kepada mama, sehingga ia tidak mau kualat bila tidak memperhatikanku.

Aku kasihan suamiku Reno, mungkin sudah seminggu tidak pergi ke kampus. Dia disuruh mama menemani aku dirumah, katanya takut kalau terjadi apa-apa. Sementara kanegnku untuk menengok rumah Ibu –ibu kandungku Bu Sobar- sudah tak bisa kubendung. Reno nampaknya masih tidur dikamar, aku tak mau membangunkannya. Aku tahu dia masih dihormati oleh mahasiswa nya dan dimintai pendapat kalau ada kegiatan di kampus, walau dia tergolong dosen muda. Sebentar lagi Dies Natalis Universitas tempat kami bekerja. Tentu Reno ikut memberikan masukan. Biasanya untuk design pameran, atau design panggung saaat pentas terkait Dies Natalis tersebut. Apalagi untuk tahun ini bersamaan dengan limapuluh tahun Universitas akan diadakan secara lebih meriah, dan melibatkan seluruh stake holder.

Tiba tiba mama mendekati aku. Bagaimana Luna, “Kau kelihatannya lebih segar pagi ini, apa sudah mereda mualnya” . “Biasa ma, terkadang masih datang sekali-sekali” jawabku. Aku lihat diwajahmu ada kerinduan. Mungkin kau ingin menginap untuk beberapa lama di rumah Ibu. Dia mungkin juga sudah kangen dengan kamu. Pulanglah nanti siang rencananya Mama juga akan ke rumah Ibu, rembugkan sama Reno. Kamu boleh kok tinggal disana, mama tak keberatan, nanti secara berkala mama akan datang kesana.

Rupanya Reno sudah membicarakan masalah ini dengan mama, padahal aku hanya kangen dengan masakan ibuku saja, kangen dengan celotehan ayahku. Aku ingin mendengarkan alunan Cinta Durjananya Reinold Panggabean, dengan Orkes Melayu Tarantulanya. Kenapa kangenku begitu berat.

Seperti kebiasaannya selama ini suamiku tidak pernah menceriterakan pekerjaan bersamaku, dia sangat profesional, termasuk saat hari pernikahanku. Sampai dua hari menjelang Hari H Reno masih sibuk dengan advis mahasiswa yang meminta masukannya sebagai senior dalam Masa Orientasi, dimana Fakutas Teknik seperti biasa mempunyai tradisi yang unik. Biasanya dengan seragam hitam-hitam, jamnyapun sangat beda dengan Fakultas Lain. Nah Reno menjadi salah satus esepuh mereka, dan kebetulan sekarang mengabdi menjadi dosen di almamaternya.

Dia bisa bekerja dengan jarak jauh memberikan instruksi secara online, teman-temannya yang merealisasikan ide masalah dekorasi resepsi pernikahan kami, kalau yang terkait dengan upacara keagamaan menjadi tanggung jawab orang tua kami. Walau begitu toh perkawinan kami berlangsung sangat meriah dan sangat unik. Hampir seluruh gedung ditandai oleh panitia berpakaian hitam-hitam, tak lain adalah mahasiswa teknik, maupun alumninya yang mempunyai tradisi, akan hadir walau tdiak diundang.

Aku masih ingat akan hal itu. Jadi masalah Dies Natalis menurut aku masalah yang tidak terlalu merepotkannya walau sudah seminggu tak ke kampus. Kan ada media sosial, ada skype. Akh memang aku masih jadul dalam masalah ini. Reno menyarankan untuk mengakali kendala jarak dalam diskusi atau konsultasi klienku bisa digunakan skype dan dia akan menginstalasinya di kantorku. Sampai saat ini aku belum mengiyakannya, aku masih ingin melihat roman muka, mikik dan sikap klienkua pada saat konsultasi. Karena menurutku itu akan sangat membantu aku membuat kepputusan yang tepat dalam mendiagnose masalah klienku, sertamemberikan tindak lanjut solusinya.

Reno rupanya sudah rapi, ternyata mama kelihatannya telah mambangunkan Reno melalui sms ke HP nya. Sehingga kulihat ia bergegas sarapan dan menghampiriku, dengan sebuah tas yang cukup besar. “Untuk apa tas besar itu Ren?” tanyaku. “Lho katanya mau nginap di rumah Ibu”. Hahaha cepat amat tindak lanjutnya.

Sebelum berangkat aku pamitan ke mama, dan seperti biasa aku mencium tangannya, sama seperti yang dilakukan Reno ke mama. Ku ingat pesan mama jaga diri baik-baik, rumah ibumu juga rumah mama, rumah mama juga rumahmu. Aduh bahagianya hatiku mendengar apa yang diucapkan mama. Dan akupun pergi kerumah ibu.

Ibuku terkejut melihat kedatangan kami, beliau masih bercengkerema dengan keponakanku, ponakan buleku semuanya berhamburan menyalami aku dan Reno. Mereka memang sangat dekat dengan Reno karena mereka sering diajak ngobrol. Bermain maupun dibantu dalam pekerjaan rumah sekolahnya. Akh Reno memang sangat cepat akrab dengan ponakanku.

Ku minta Reno meninggalkan aku di rumah, sementara ia ku minta datang ke kampus untuk menemui mahasiswanya yang sedang mempersiapkan acara Dies Natalis, siapa tahu advis Reno ditungu tunggu mereka.

Kuceritakan ke Ibuku, bahwa dalam kehamilanku yang sudah memasuku bulan ke enam ini aku masih mengalami muntah-muntah. Padahal ibu saat mengandung semua anaknya tidak mengalami gejala serupa. Mungkin aku mengalami hal yang sama dialami oleh mama – ibu mertuaku-, pada setiap kehamilannya mengalami muntah-muntah yang sangat lama, bahkan sebulan sebelum kelahiran beliau masih mengalami gejala itu. Mungkin juga karena reaksi rahimku yang baru pertama hamil,

Tiba-tiba, sayup sayup aku dengar lagu Cinta Durjana, berarti ayah sudah siap akan berangkat kerja. Memang kata ibu belakangan beliau berangkat kerja siang-siang. Beliau jarang mengikuti sidang kalau dilakukan pagi hari. Cukup staf akhlinya saja yang mewakili. Ayah memelukku dari belakng, sambil memujiku. “Luna kau cantik sekali dalam kehamilan ini, coba tanya ibumu benar nggak begitu?” “ Benar yah, Luna tampak lebih cantik selama kehamilannya ini” sahut ibuku. Pasangan yang masih selalu kompak, gumanku,

Ayah langsung membuka kembali kemejanya, diganti dengan kaos T-Shirt saja. Dengan kepulanganku beliau membatalkan pergi ke kantor. Beliau ingin mendengarkan  cerita kehamilanku, dan perlakuan mama kepadaku. Kuceritakan apa adanya. Aku selama kehamilan sedikit tersiksa yah, hampir sepanjang hari aku mengalami muntah, untuk aku disamping memiliki Ibu dan ayah yang sangat menyayangi aku, mama –mertuaku- sangat prosetktif padaku, dia juga sangat menyayangi aku.
Lebih banyak dia tinggal bersamaku, beliau takut aku akan mengalami hal-hal yang menyulitkan, karena pengalaman beliau setiap hamil mengalami hal yang sama. Beliau juga merasa harus melayani aku, karena Mama Lasteri dalam hidupnya sangat menyayanginya walau hanya saudara tiri.

“Bu, kita rayakan kepulangan Luna dengan makan-makan masakan ibu”. Oh ya tadi ibu membuat pisang rai hijau, mungkin kau kepingin mencicipinya Luna. “Oh iya Bu aku memang sudah lama kepingin pisang rai hijau. Pasang rai adalah pisang dibalut adonan tepung encer di rebus dalam air mendidih, ditiridkan sesudah mateang. Lalu disajikan untuk dimakan bersama parutan kelapa dan gula juruh.

Ini namanya pucuk dicinta ulam tiba. Gayung bersambut. Aku menikmati bertiga dengan Ibu dan ayah. Keponakanku kelihatannya masuk ke kamar masing-masing untuk bermain game. Meraka main bersama hanya saja masing-masing ada dikamarnya. Mainya secara on-line. Mendengar cerita Luna yang sangat disayang mama nya, Sobarpun sangat senag, dan dia tidak sadar telah berulang kali memutar Cinta Durjana nya Reinold Panggabena.

Merana, merana aku merana, merana karena cinta durjana. Tersiksa batinku karena cinta karena kau cinta durjana. Iru sepenggal syairnya yang kuingat. Aku menjadi kasihan sama ayah. Sejak perabuan jenasah Lasteri, ayah kelihatannya semakin religius. Dia lebih rajin beribadah, dan selalu mengingatkan teman-temannya di DPRD tetap berpedoman pada ajaran agama dalam bertindak, walau atas nama rakyat yang mereka wakili.

Ayah rupanya masih ingat saja kesenangan putri tunggalnya ini. Dia balik ke kamarnya mengajakku masuk, untuk menunjukkan satu tas daster untuk orang hamil. Tapi aku heran ayah kok tahu ya kesenangan aku warna pink, dari beberapa yang ayah belikan rupanya didominasi warna pink. Daster yang dibelikaannyapun daster masa kini, daster yang bermotif kembang-kembang seperti mukena Bali yang lagi ngetrend masa kini.

Aku mencobanya, dan ku pakai keluar kutunjukkan ke ibu........ Aduh Luna kau bertambah anggun menggunakan daster itu. Ibu yakin kalau daster itu tak lama lagi akan ngetrend kalau kau pakai ke kampus, atau ke kantor biromu, Akh ibu bisa saja....... “terima kasih ibu” kataku. “lho kenapa tidak berterima kasih sama ayahmu” jawab ibu. Sama ayah sudah tadi, tapi aku melihat model dan seleraku pas dengan potongan, model dan motif dasterku, aku tahu pasti ibu yang mendesignya.

Hahahahahahaha.......... ketahuan juga daster made in sobar mam... teriak ayahku. Memang selera anak dan ibunua kompak. Tak terasa kami berpelukan bertiga, ibu, ayah dan aku. Ibu dan aku meneteskan air mata, dan ayah hanya terpana melihatnya..... Memang kompak.

Pondok Betung, 4 September 2014.



Jumat, 08 Agustus 2014

Rani 22 : Pertemuan Orang Tua Yang Terpisah.

“TANDA HITAM DI TANGAN RANI, MEMANCING AIR MATA LADAWA”

Suasana Belakang Villla Salmah
Tanda tanya menyeruak dihati Rani semenjak pulang dari tawangmangu. Apakah benar Suster Salmah Ibunya, apakah benar Ayahnya masih ada di Mataram, kenapa Romo merahasiakan hal ini sebelumnya?. Masak sih mereka tega tidak datang saat pernikahanku dulu? kalau diurut itu akan jauh lebih panjang dan berulang di benak Rani. Dan satupun dia tidak mendapatkan jawabannya. Sementara perut Rani sudah semakin membuncit dalam kehamilannya yang kedua ini. Rani tetap dengan kesibukannya selama dua hari full di kampus, selebihnya ia sudah mulai membantu Kanjeng Mami mengelola perusahaan bersama suaminya Coke. Kanjeng Mami kelihatannya masih asyik bercengkrema dengan Cucu kesayangannya Cokde Junior.
Pagi itu, pertanyaan seupa muncul kembali. Sehabis sarapan biasanya Rani bergegas pergi menuju kampus karena memang setiap hari Selasa dia memiliki acara memberikan Kuliah pada mahasiswanya di tingkat magister, dan memberikan bimbingan sebagai ko promotor untuk program doktor. Para muridnya memuji kecantikan Rani. Kata mereka Bu Rani semakin cantik pada kehamilannya kali ini. Mungkin akan melahirkan seorang putri. “Akh kalian bisa saja” jawab Rani ketika seorang mahasiswinya memuji kecantikan Rani.

Rani mondar=mandir di taman samping sambil memperhatikan burung-burung disangkarnya yang sedang bersautan bunyinya, antara perkutut, puter maupun burung punglor yang sangat genit, selalu menicicit, sambil menari-narikan batang lehernya. Seakan dia tahu tuannya memperhatikannya. Hampri setengah jam Rani bercengkerema dengan burung burung itu.
Yande masih menunggu di mobil yang sudah siap meluncur ke kampus menghantarkan Rani. Yande tak tahu kenapa tuannya itu meminta ia menghantarkannya berangkat ke kampus. Padahal biasanya Rani sudah biasa menyetir sendiri. Mobil berjalan perlahan Yande memuji kecantikan tuannya. “Akh kamu Yande sama saja dengan Mahasiswa mbak, selalu memuji aku” Kata Rani. Memang benar Doro Putri tambah cantik dan maaf lebih menor pada kehamilan ini” jawab Yande. Tawa Ranipun berderai ditengah perjalanan.

Rani mengajak mampir Yande ke Starbucks, katanya kok selama kehamilan ini Rani ngidam Rasberry Coffee cream. Ada ada saja kata Rani. Yande turun kembali dengan dua cup pesenan itu, yang akan mereka nikmati di kampus. Mobilpun merapat ke kampus. Kelihatan sudah ada beberapa mahasiswa menunggu Rani di taman samping ruangannya, mereka bercanda khas candaan mahasiswa. Rani berlalu mereka semua berdiri dan memberikan salam. “Maaf ya tunggu saja sebentar, Ibu mau minum sebentar ya” kata Rani.
Yande bergegas membawakan tas dan barang barang bawaan Rani ke ruangannya, termasuk dua cup kopi kream dingin yang dibelinya tadi. Yande diminta menunggu di mobil saja. Iapun sibuk dengan ipadnya, melihat-lihat laporan perusahaan, perintah Cokde, atau Kanjeng mami yang biasanya pagi-pagi sangat banyak, untuk acara hari itu yang harus ditindak lanjuti.

Tengah hari hampir semua bimbingan Rani, yang menunggu dari pagi telah dilayani dengan ramah dan tegas oleh Rani. Terlihat ada yang gembira keluar dari ruangan, ada pula yang kelihatan kesel, bahkan beberapa keluar dengan garuk-garuk kepala. “Makanya kalau menghadap Bu Rani, kalian harus siap dan telah melaksanakan perintah sebelumnya, melakukan koreksi dan revisi apa-apa yang menjadikan catatan beliau” ucap seorang mahasiswa. “Memang aku mau coba tidak melakukan revisi seperti catatan beliau, hanya ku print ulang dengan pontasi berbeda. Rupanya beliau tahu, akh aku kena semprot, dan tak boleh konsultasi dua minggu ini sebelum melakukan revisi dan perintah baru yang beliau berikan” gerutu seorang mahasiswa.

Yande ketawa tertahan mendengarkan gerutuan mahasiswa Rani. Tiba-tiba Rani sudah duduk di jok belakang, memerintahkan Yande untuk bergerak lagi. Kita menuju Hotel maharani Yan, perintah Rani. Siap Doro. Mobil dipacu sedang-sedang saja, Yande menyetel radio yang melantunkan lagu-lagau lama dalam irama bosanova. Rani sangat menikmati, menurutnya lagu tersebut sangat pas dengan suasana hatinya.

Di sebuah cafe di sayap bangungan Hotel Maharani, Cokde dengan dua orang yang seakan rani kenal telah menunggu, Mereka salaman . Ternyata Suster Salmah datang dengan seorang lelaki hampir enam puluhan lebih, tetapi masih gagah. Ia memperhatikan lengan Rani, dia memperhatikan telapak tangan ku sejak salaman tadi. Lama lelaki itu tidak berkata apapun. Cokde memecah kesunyian itu dengan kau mau pesan apa Ma, tawarannya kepada Rani. Aku minta Lime Tea saja hangat, kalau ada dengan madu,
Rupanya lelaki itu, menahan air matanya, tetapi tetap tidak sanggup, sehingga menetes di pipinya. Suster Salamah mengelapinya, kelihatan masih mesra. Akhirnya lelaki itu berkata, Mah, aku sangat ingat tangan itu sempat aku ingat, ada toh atau tanda hitam sedikit besar di punggung tangan itu. Dia anak kita Mah. Salmah pun meneteskan air mata, mereka kelihatannya sangat mesra, dan tak menganggap yang lainnya ada, mereka berpelukan menangis berdua. Aku tahu tanda di tangan kananku yang hitam dan sedikit tumbuh bulu ini yang mereka perhatikan.

Naluri Ranipun tersentuh, dia beranjak dari duduknya ikut berpelukan melepas tangis haru. Keharuan pertemuan sepasang suami-istri dengan putrinya yang telah lama berpisah. Perpisahan ini terjadi karena keegoan orang tua Suster Salmah. Mereka tidak mau mengakui pernikahan mereka, sehingga Salmah minggat dari rumah. Dalam kebimbangan Salmah dia berpaling mengabdikan dirinya di Gereja, menjadi pelayan umat. Dia berkelana ke manca negara, selama hampir dua puluh lima tahunan, setelah sebelumnya di dalam negeri beberapa tahun. Ia dapat kepercayaan melanglang buana ke luar negeri karena kelebihan Salmah yang menguasai beberapa bahasa asing. Lelaki yang mendampingi Salmah Rupanya Ladawa.

Karena cintanya ke Suster Salmah, walau ia anak tunggal, Ladawa tetap tidak menikah kembali sampai saat ini, sampai ia memasuki masa pensiun dua tahun lalu dari Kepala Dinas di Propinsi Gora tersebut. Ladawa tokoh pengembang pariwisata di tiga Gili di Lombok, rupanya sudah biasa selama ini berbisnis dengan Keluarga Cokde. Pantesan Yande sangat kenal kelihatannya dengan Ladawa, hanya saja demi kesopanan dia menjauh saat pertemuan ini.

Rasa ikatan itu memang terasa, walau kelihatannya tidak realistis tapi Rani merasakan. Cokde melihat ikatan itu ada diantara mereka. Wajah Rani perpaduan antara Solo dan Lombok. Cokde tahu Ladawa, mantan pejabat di Mataram, dia masih keturunan bangsawan Karangasem, hanya saja keluarga mereka tidak memakai gelar kebangsawanannya sudah dua generasi ini.

“Sudah kuduga Mah, kita pasti akan bertemu lagi, ayo kamu pulang ke Mataram, pintu rumah Papa tak pernah ku kunci sejak kau pergi dengan Ratna – panggilang sayang Ladawa kepada Rani-   demikian pula hati ini, kukunci untuk semua orang hanya kubuka untuk kamu Mah”. Kata Ladawa. Rani melirik Lelaki itu, pilihanku rupanya tak jauh berbeda dengan postur dengan postur Bapak. Cokde mengatakan bahwa dengan keluarha Ladawa di Karangasem sejatinya keluarganya masih ada ikatan kekerabatan.
Ladawa, walau sudah tua masih punya kharisma, rambutnya masih gondrong, dan bawaannya tas berkelas, dengan smartphone terbaru yang tak pernah lupa dibawa. “Bagaimana Cokde kalian harus datang ke rumah Bapak di Mataram, kita rayakan pertemuan ini dengan besar-besaran”.usal Ladawa. Mama kalian Salma, aku yakin dia pasti setuju, dan menetap denganku. “Akh style yakin saja pa”, jawab Rani dan Salmah berbarengan.

Cokde menawarkan, agar tidak ada yang tersinggung terutama Kanjeng Mami, apalagi Pak ladawa, sudah sangat kenal dengan kharakter Mami. “Bagaimana kita rembugkan dengan Kanjeng Mami, kita menemui beliau sore ini” tawar Cokde. Bapak dan Mama Salmah jalan-jalan dulu di sini melihat lihat Kuta, kita ketemuan nanti malam di rumah Puri Gading saja.

Meraka setuju semua, dan Salmah menepati janjinya akan menyayangi ladawa Sehidup semati, sama dengan Cinta Ladawa kepada Salmah. Meraka kelihatannya sepasang pasangan yang sangat serasi. Tapi mengapa ya orang tua mereka menghalangi. Oh itu masih kuingat Romo pernah bilang di tawangmangu, karena kakek rani, yang masih ningrat di Solo, telah menerima tawaran kerabatnya ddari kalangan ningrat, selepas Mama Salmah sekolah di Surabaya. Rupanya Salmah dan Ladawa menikah duluan, kawin lari masih mengikuti adat Bali.

Tapi menurut pengakuan Ladawa tadi sebelum rani datang, keluarga Mama Salmah sudah menerima Ladawa sebagai mantunya, sejak kunjungan Ladwa ke Solo, menghadiri pemakaman nenek Rani. Meraka sudah seperti anak mantu dengan mertua, Ladawa sering menginap di Solo kalau ada keperluan bisnis disana. Demikian juga Mbah Kakung Rani Raden Pawiro, sudah beberapa kali dijemput Ladawa untuk istirahat di Mataram.

Eyang kakung katanya sangat menikmati kalau lagi liburan di Gili Trawangan, bisa sampai dua minggu betah disana. Jadi hubungan mereka sebenarnya sudah baik, bukan hanya gencatan senjata saja. Hanya saja Salmah yang tidak mengetahuinya, karena Suster Salmah memang putus singkong hubungannya dengan keluarga maupun dengan Ladawa, selama hampir dua puluan tahun ini.
Ladawalah yang menjemput Salmah ke Semarang ke kediaman Romo, setalah Salmah memutuskan ingin menemui suaminya. Dia tidak bisa melanggar sumpahnya yang telah diucapkan untuk sehidup semati dengan Ladawa, terlebih setalah Rani mereka temukan kembali.

Meraka tampak mesra sekali, hanya saja Suster, hehe Mama Salmah kelihatannya masih agak canggung karena tugas dan pakaian yang dikenakannya selama ini. Kata beliau baru beberapa hari setelah di Mataram kembali memakai pakaian biasa, meninggalkan pakaian ke susterannya. Sungguh suatu insan yang sangat tepat janji.

Meraka kelihatan bergembira menyaksikan para wiasatawan berjemur, ditepian pantai Kuta berjejer, atau berselancar memburu ombak, sungguh suasana yang menggembirakan hati. “Mah nanti sepulang ke Lombok kita istirahat beberapa waktu di Gili, di Villa Salmah, sebuah villa yang sengaja aku bangun sebagai tonggak kenangan abadi cinta kita. Selama ini hanya aku sendiri yang menempati sekali sekali villa itu, saat peak seasonpun papa tidak sewakan. Romantisnya..........
Puti gading, 9 Agustus 2014.



Sabtu, 02 Agustus 2014

Sobar-13 : Bulan Madu Marlina



“BULAN MADU MARATON PASANGAN MARLINA-RA PAYOU”

Keagungan Taj Mahal
Siang itu sekitar pukul 13 15 Marlina sudah sampai di ruang kerja Prof Suraya, di Rumah Sakit Cinta Keluarga, agak terlambat sebenarnya dari waktu yang telah telah mereka sepakat. Marlina sempat ngirim pesan ‘ bbm’ ke beliau akan sampai agak terlambat, karena kondisi jalanan sebagai buntut liburan ini menjadikan jalanan sedikit macet. Dimana mana parkir meluber kejalanan, karena aku pergi pas waktu makan siang. Seorang suster mempersilahkan Marlina untuk menunggu di dalam ruangan, karena Prof Suraya ada pasien citto yang harus operasi Caesar dalam kelahiran bayinya.
Memang sudah cukup lama Marlina tidak ketemu Prof Suraya. Kalau tidak salah dia ketemu untuk konsultasi saat haid Marlina terganggu siklusnya, pada awal-wal menstruasi waktu remaja hingga menghadapi penyelesaian tugas akhirnya mengambil Insinyurnya. Seingat Marlina sekitar lebih dari lima belas tahun yang lalu. Apakah Prof Suraya masih ingat ya…. Fikir Marlina sambil memperhatikan sebuah artikel pada Majalah Ibu dan Anak yang membahas sebuah kehamilan pada ibu  usia lanjurt.
Secangkir the manis dengan tiga potong kue Secangkir teh manis dan tiga potong kue ‘sumping; diantarkan suster yang menjemput Marilna tadi ke meja tunggu Marlina. Silahkan Bu. Susterpun basa-basi ngobrol, dan bertanya sana-sini untuk memecah kesunyian. Dia katakana bahwa Prof Suraya telah menjadwalkan konsultasi Marlina pk 13 15, namun sekitar lima belas menit sebelumnya ada panggilan citto tersebut.
Langkah Prof Suraya, terdengar jelas mendekati ruangan. Tiba-tiba “Selamat Siang Marlina” sebuah salam sangat familier datang terucap bersamaan dengan grit pintu ruangan di buka tutup. Marlina berdiri menjulurkan tangannya untuk salaman dengan Prof Surya “Selamat Siang Prof”. “Aku kira akau telah terlambat dari janjiku, aduh macet jalanan dari rumah kesini” Kata Marina.
“Akh rasanya sudah lama ya tidak bertemu sama Prof Suraya”
“Benar, kulihat file Marlina tadi sekitar tiga beles tahun lma bulanan”
“Wah-wah benar sekali, sebuah pengarsipan pasien report yang sangat baik Prof”
“Itu Berkat kerja Suster Marini yang mengenteri ulang semua file pasenku”
Marlina tidak merasa telah teriring kepertanyaan esensial seorang dokter kandungan kepasiennya. Marlina menceritakan bagaimana perasaan hatinya setelah menikah dengan Ra Payau, disebuah masjid Agung Kota Casablanka di Afrika Utara, dimana nenek moyang suaminya berasal, walau dia berkewarganegaraan Prancis. Marlina kelihatannya sangat bahagia, hanya saja ada perasaan lain belakangan ini yang menghantui dirinya.
Prof, aku nerasajan suasana yang berbeda dengan saat aku masih lajang. Hehe maaf mungkin sindrom usia kali ya Prof, mengingat umurku yang sudah begini baru menkah. “Akh baru empat pulhan Marlina, sebulan yang lalu aku mempunyai pasien umur empat puluh enam, melahirkan anaknya yang pertama, dengan selamat. Hanya saja melalui operasi Caesar.
Iya Prof perasaan itu adalah perasaan males, aku sangat males untuk berdandan, apa mungkin terbawa oleh kebiasaan suamiku yang super cuek dengan pakaiannya kalau sedang bekerja. Dia hanya rapi kalau ada acara-acara formal saja, dengan tetap ridak pernah merapikan rambutnya. “Hehehe janga-jangan” . “Jangan jangan apa Prof, bikin aku takut saja”. “Jangan-jangan kau hamil Mar, Tapi kita tunggu sebentar hasil labnya untuk memastikannya”
Marlina kelihatannya terkejut, tapi diwajahnya ada kebahagiaan. Wajah cantiknya terlihat jelas dia seorang piyayi yang sangat menjaga kecantikannya, walau dia sebagai wanita karier, dan disegani di faultasnya. “Ku dengarn Guru Besar kalian sudah keluar, Marlina, saat mampir di Rektorat aku dengar dari Pembantu Rektor Satu. Selamat ya untuk keduanya. Kau akan segera menjadi seorang ibu bagi anakmu, dan tak lama lagi akan dikukuhkan sebaai Guru Besar Konstruksi Beton di Teknik Sipil, almamater kita.
Sambil melihat opsion kedua hasil analisis darah yang akan menguatkan hasil laboratorium dari hasil analisa urine, Prof Suraya memberikan aku resep, tambahan suplemen untuk memperkuat posisi ikat janin di kandunganku, yang menurutku sudah cukup tua untuk memiliki anak. Namun mendengarkan penjelasan Prof Suraya tentang pasien-pasiennya sebenarnya masih banyak pasiennya yang jauh lebih tua dari aku. Mudah-mudahan semuanya lancar.
Kata mahasiswiku Vinata, seorang putri dari Banda kabar baik harus segera disebarkan. Maka dengan segera kabar ini aku kabarkan ke suamiku bahwa aku telah hamil, dia akan segera menjadi seorang ayah dari anaknya. Dia sangat gembira saat aku kabari, dan mengatakan akan segera pulang setekah pekerjaannya selesai menginstalasi alat-alat laboratorium di Politeknik Banyuwangi. Mungkin dua tiga hari ini bisa rampung, karena ada temanku Paulus yang ikut membantunya disana. Dia merupakan tenaga teknisi yang handal yang biasa kerja dengan orang asing.
Sore itu, sambil menikmati kegembiraanku, aku memutar kembali video selama aku melakukan nikah tamasya. Kuawali perjalananku dengan menjelajahi India. Bagaimana keindahan Taj Mahal di kota Agra, bagaimana ramainya orang menikmati sore di Veranasi, benares semua terasa sangat romantic. Mungkin suasana romantic dari suamiku yang orang perancis kelewat romantis kali. Dia memanjakanku, sebelum pernikahan resmi kami, palimg-paling dia memberikan kecupan dan pelukan saying padaku. Dia seorang yang sangat menjaga privasi pasangannya. Selama belum menikah dia tetap tidak mau nginap sekamar denganku. Itu prinsip dia, dia sangat menghormati aku. Apa karena dia lebih muda ya, jauh lebih muda kali, karena perbedaan umurku tiga belas tahun. AKh peduli amat dengan umur aku harus menikmati kehidupanku.
Lalu lalang pengunjung berperahu, dikayuh oleh Mister Takur kataku kepada pemilik perahu di Benares,s sangat romatik. Ra Payaou mengabadikannya sangat detail, dia mengambil gambar dengan bantuan Mister Takur. Kami sangat menikmati makan malam ala India disana berbaur dengan pengunjung yangdatang dari segala penjuru dunia, memohon berkah dari Sungai Gangga. Mungkin salah satunya adalah kehamilanku yang sangat cepat ini sebuah berkah dari sana. Hahahahaahaaaaaaaa.
Neni datang sore itu ke rumahku, menemani menyaksikan video perjalananku. Dia datang persis sedang kuputar saat kami akad nikah di LAjazair, disebuah masjid tua, dekat pemukinan keluarga kami, di kota Abijan. Disaksikan petugas dari kedutaan kami melakukan akad nikah dengan hikmat, walau kelihatan sangat sederhana ditengah keluarga besar Ra Payaou. Adik sepupuku Rahmawati yang menikah dengan seorang Bule Italia, Alesandro datang dari Napoli ikut menyaksikan perikahan kami. Dialah menjadi asrot kamera saat akad nikah tersebut.
“Wah sangat berkesan, Bu kata Neni, sambil mempersilahkan aku mencicipi kue klepon yang ia bawakan aku, dari pasar Sukawati, saat diperjalanan ke rumahku bersama Parta” Mereka kelihatan sangat bahagia, keluarga Parta kudengar sangat memanjakan Neni, terlebih saat dokter menyatakan bahwa hasil USG menunjukkan janian di rubuh neni laki-laki. Dialah penerus generasi Parta yang anak tunggal di keluarganya.
Kuusap perutnya Neni, dia sangat bahagia, dan memelukku menangis. Aku merasakan sekarang pas, kalau neni memanggilku Ibu, karena sebentar lagi akupun akan menjadi seorang ibu, sama dengan Neni. Dia sudah kuanggap sebagai saudaraku, dan demikian pula sebaliknya. Dia penyambung tali persudaraan kami dengan keluarga Parta yang batal karena sudah kelamaan berpacaran denganku.
Kami berdua sambil menikmati kue klepon dan the poci dengan gulabatu, melanjutkan menonton Vvideo saat kami berbulan madu di Paris. Orang tua Ra Payaou tinggal di kota Neic, di selatan Prancis, namun dia masih memiliki sebuah Residence, mirip apartemen di tepian kota Paris, kujelaskan gambar apartemennya. Aku berjalan menyusuri Sungai Sein, sangat romantic. Kami ada disana pas punak musim  panas aakhir Juni, sehingga sangat ramai orang yang memadu kasih atau sekedar berjemur ditepiannya. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan romatis, seromatis kapal para pesiar yang melintasi beningnya sungai itu.
Menara Eifel terlihat sangat kokoh, melatar belakanginya. Dia menjulang diantara benitu banyaknya bangunan yang ada sekitar Trokadero dimana menara itu berada. Kami berdua berfose memegang sebuah karikayur gambar kami berdua yang dilukis oleh pelukis jalanan di halaman Gereja Kathedral kota Paris. Sungguh pemadangan yang luar biasa, tapi dasar perut yang sudah hamper sebulanan belum kena nasi, kamipun naik metro dari Trocadero menuju Paris 13, sebuah provinsi yang dipenuhi oleh etnis Indo China, Vietnam dan Kamboja. Aku dengar walikotanya seorang imigran Kamboja yang turun kedunia politik.
Dikawasan peciban kata suamiku ini, aku menikmati nasi. Masakan Vietnam, yang nyaris tidak begitu berbeda dengan masalak China di Pecenongan. Hanya saja sebagian besar kurasakan dominan rasa jahenya. Nasinya berkualitas sangat bagus, nama-nama makanannya lebih banyak aku tak tahu. Untung bawa penterjemah, suamiku. Aku menanyakan apakah ada masakan yang medekati sayur lodeh, aku sudah sangat kepingin ne. Kata Rapayaou orang Prancis tidak senang makanan bersantan. Mereka memang pemakan kelas berat, tetapi tidak obesitas. Semuanya terkontrol.
Saat rehat menonton, Neni kutanyai perasaan dia saat ini. Dia mengatakannya sangat berbahagia,d an berterimakasih kepadaku telah dipilihkan suami yang sangat sabar dan penyayang. “Bahkan mandipun Neni sering di madiin Bli Parta” Katanya. Wah-wah sangat romantic Parta ya, padahal beberapa tahun pacaran denganku dia sangat sopan, tidak berani ngapa2 in. Beruntunglah kami Neni, mendapatkan Parta. “Semoga Ibu mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari Neni, Tuan Ra Payou Neni lihat juga sangat romantic dengan Ibu. Semoga kebahagian Ibu melebihi kebahagiaan Neni” katanya sambil meneteskan air mata.
Neni dan Parta memang sering menemani aku, selama suamiku pergi. Dia keluargaku yang sangat setia mendampingi, berbagi kebahagiaan denganku. Neni lebih dulu merasakan kebahagiaan itu. Kebahagiaan Neni Parta adalah kebahagianku. Keluarga Parta tetap menganggap aku sebagai bagian dari keluarga mereka.
Sambil meneruskan menyaksikan video petualangan kami di Mali, atau sering disebutkan sebagai Maladewa atau Maldives, sebuah pulau kecil di tengah Samudera India, sekitar arah barat daya India. Suasananya mirip dengan suasana di sebuah Pulau di Maluku, pulau dengan banyak pohon kelapa, banyak gubuk sederhana dengan hamparan pantai yang menggelora. Pantesan banyak wisatawan Indonesia terutama para artis melewatkan bulan madu mereka disini, suatu pulau yang romantic seperti terlihat dalam sebuah foto yang pernah ramai beredar disosial media, kebersamaan penguasa yang politisi Aburizal bakri dengan artis Zalianti.
Kaldera Gunung Taal
Kami melatkan bulan madu kami di negara pulau ini hanya tiga malam, sebelum melanjutkannya ke Philipina. Sambil menikmati santap malam kami bertiga, aku, Parta dan Neni, tak terasa masakan Bibi Lan, ludes kami makan. Nggak tahu mungkin bawaan orang hamil kali ya aku dan Neni sama sama rakus makannya. Ayam bakar yang dihidangkan bersama sayur lodeh yang aku sudah diamkan dari sejak di Paris baru kebayar. Hahahahaa …
Saat ke Philipina aku menyusuri negeri Nyonya Acuino ha,pr seminggu. Kami sempat menginap semalam di puncak Gunung Taal, sebuah gunung yang di puncaknya terdapat danau yang sangat luas, serta di tengah danaunya terdapat Psebuah pulau yang sangat indah. Sebuah pulau di puncak gunung. Nyali ku diuji disini. Sebelum mendaki aku sempat menikmati kuliner, yang mereka sebut Bulalo. Masakan dari daging kernau, kulihat hamper mirip dengan masalak padang kesukaanku. Aku paling menikmati Bulalo yang mirip tunjang di Rumah Makan padang. Akh satu piring kulahap………… tuntas.
Kami mendaki sekitar satu jam sampai bagian datar kaldera sebelum menyeberang dengan perahu ke Pulau, semua itu terabadikan dalam video dokumentasi perjalanan kami. Kelihatan orang barat itu lebih senang mendokumentasikan perjalanannya dengan baik dibandingkan dengan kita ini. Akh memuji suami sendiri kan ngak apa-apa to.
Di pulau kami disambut tarian tradisonal Mindanao, hamper mirip Hawaian, hamper semalam suntuk kami menikmatinya bersama minuman khas, San Mieguel itu lho birnya Philipina, sama dengan Bintang, Bienya Indonesia yang digemari para toris di klub klub di Legian Kuta. Kami menikmati steak kambing muda, malam itu. Malam itu kami sangat kami nikmati berdua, sama dengan para pasangan pasangan yang bertujuan sama untuk berbulan madu, atau merefresh hubungan mereka walau sudah punya beberapa anak.
Aku terlihat di film, sangat lusuh bangun kesiangan di villa sederhana yang terhampar di pulau kaldera Gunung Taal. Lengkaplah romantika penganten baru kualami, dari ke Agungan Cinta, Taj Mahal, romantisme sungai Gangga dengan berbagai permohonan dan harapan. Tradisi Arab-Algere yang teralkulturasi oleh Budaya Prancis, Romantisnya Paris yang angkuh dengan Menara Eifel dengan Sungai Seine yang membelah keramaian kota, serta Indian Ocean Paradise di Mali dengan aroma laut dan lambaian kelapa. Neni walau menyatakan ikut senang dengan apa yang kualami, namun ada keingingan diwajahnya. Kuanjurkan mereka untuk merencanakan kelahiran berikutnya setelah kelahiran anak pertama nantinya. Meraka harus merencanakan perjalanan, bisa perjalanan rohani atau perjalanan bulan madu kedua…… Meraka sangat setuju terutama Parta, nahkan menyatakan siap, saat ini pula bila Neni mau. Heheheeh itu perut apa kuat diajak jalan-jalan. Akh kuat saja, bila perlu kuajak serta Dokter kandunganku, kan mereka penganten baru…. Baru sekitar sebulan lalu menikah. Mungkin bisa kita diskusikan dik Neni saat kunjungan control berikutnya. Selamat ya Parta.

Puri Gading, awal Agustus 2014.